Kamis, 11 Oktober 2012

SAUDARA KEMBAR

Diposting oleh Unknown di 23.29

SAUDARA KEMBAR
Hari ini adalah hari pertama bagi mereka duduk di bangku SMA. Refi dan Rafi beruntung karena dapat lulus ke sekolah ini. Sekolah yang mereka dambakan sejak dulu. Tapi Refi tetap saja tak bisa tersenyum. Ia muak harus satu sekolah lagi dengan Rafi, abangnya yang dua menit lebih tua darinya.
Refi takut kejadian-kejadian sebelumnya akan terulang lagi. Dimana Rafi dielu-elukan di sekolah. Dan dia hanya terlihat sebagai benalu yang numpang hidup. Numpang beken. Secara fisik, mereka terlihat nyaris sama. Tapi secara sifat, kemampuan berpikir, dan sebagainya, Refi jelas tak bisa bersaing dengan saudara kembarnya itu.
Sebenarnya Refi sangat berharap bisa berbeda sekolah dengan Rafi. Agar dia bisa kreatif sendiri, tanpa ada bayang-bayang Rafi yang terkenal. “Refi, kamu harus satu sekolah sama abang kamu. Kalau tidak, nanti siapa yang menjagamu di sekolah?” Ujar Mama beberapa hari silam. Saat mendengar itu, rasanya Refi ingin membanting sendok yang sedang Ia genggam. Refi muak dengan situasi seperti ini.
Sekarang Refi hanya berharap, bahwa Rafi takkan seterkenal dulu. Tidak sepintar dulu.
Tapi ternyata, seminggu kemudian, harapan itu mulai musnah. Hanya dalam hitungan hari, nama Rafi mulai dikenal di penjuru sekolah. Karena kemampuannya dalam bidang fisika. Karena kelincahannya dalam memainkan bola basket. Karena ketampanannya. Karena gaya berbusananya yang menarik. Dan lain-lain! Hal ini membuat Refi semakin membenci Rafi. Menurutnya, Rafi seakan tak memberikan Ia sedikitpun ruang untuk bisa setara dengannya.
“Lo kok nggak ngerjain pr mtk sih, tadi?” Tanya Rafi di suatu malam.
“Kenapa? Lo senang kan, gue dimarahin di depan kelas?” Tanya Refi balik.
“Lo kok sinis gitu, sih? Kalau lo gak ngerti pr nya, lo kan bisa bilang ke gue, biar kita kerjain bareng.”
Refi hanya mendengus kesal. Lalu beranjak menuju tempat tidur. Mematikan lampu, dan mencoba tidur secepatnya.
Hari ini agak berbeda. Refi bertemu dengan anak kelas sebelah yang bernama Stefani. Anaknya cantik dan ramah. Semenjak kehadiran Stefani, Refi tak terlalu menghiraukan kakaknya itu. Ia hanya terus berusaha mendekati Stefani. “Fan, besok kan libur. Lo mau gak, nemenin gue ke toko kaset?”
“Boleh, aku juga mau lihat-lihat. Kita ketemu di toko kasetnya aja ya, Ref?” Jawab Stefani. Mendengar jawaban tersebut, Refi langsung tersenyum lebar. Ia tak menyangka Stefani akan menerima ajakannya. Refi pikir, Stefani sama dengan cewek-cewek lain, yang jelas-jelas lebih tertarik pada Rafi.
Semakin hari, Refi semakin dekat dengan Stefani. Mereka sering ke Mall bersama, belajar bersama dan sebagainya. Refi tak mau cerita sedikitpun tentang Stefani pada Rafi. Refi takut, abangnya itu bisa saja merebut Stefani darinya. Dan Refi tentu tidak mau itu terjadi.
“Ref, sorry ya. Kayaknya kedekatan kita sampai di sini aja, deh. Sebenarnya… mmm.. Gue udah jadian sama Rafi tadi malam. Sorry banget, Ref.” Refi kaget bukan main. Ternyata selama ini Stefani mendekatinya hanya untuk mencari informasi tentang Rafi. Pantas saja Stef sering bertanya tentang Rafi. Refi sedih luar biasa. Ia merasa seperti ada bongkahan batu besar yang menimpuk dadanya. Ketakutannya selama ini ternyata benar. Rafi merebut Stefani darinya. Refi tidak bisa terus diam. Refi tak bisa terus menerima perlakuan Rafi. “Jadi lo jadian sama Stef? Lo gak tau apa kalau selama ini gue suka sama dia? Lo gak tau selama ini gue deket sama dia? Lo emang jahat, ya? Teganya lo rebut sisa kebahagiaan gue. Gue tau kok, lo emang lebih dari gue. Oh iya, lo baru diangkat jadi Kapten Basket, ya? Terus, gimana olimpiade Fisika lo? Lo emang hebat, Raf. Sementara gue gak lebih dari siswa terpinggir di sekolah..”
“Jadi Stefani itu gebetan lo? Ref, gue benar-benar minta maaf. Gue gak tau lo suka sama dia. Kalau lo mau, gue bisa putusin dia sekarang.”
“Gak perlu, gue udah terlanjur jijik sama dia.” Ucap Refi sambil berlalu. Lalu membanting pintu kamarnya dengan kasar. Sementara itu Rafi terduduk. Ia tak menyangka sama sekali bahwa Refi dekat dengan Stefani. Baik Refi maupun Stefani tak pernah bercerita tentang hubungan mereka padanya. Rafi tahu, sekarang Refi pasti sangat kecewa. Ia ingin memutuskan Stefani sekarang juga. Tapi Ia sadar, itu tak kan ada gunanya. Ia ingin melakukan apa saja yang dapat mengobati luka Refi. Tapi Ia tak tahu bagaimana caranya.
Lalu Rafi bangkit. Ia berjalan lesu menuju pintu kamar adiknya. Lalu mencoba membukanya. Tapi gagal, ruangan itu terkunci. Tak seperti biasanya. “Ref, maafin gue, ya? Gue tahu kok, gue salah. Gue bakal lakuin apa aja asal lo gak marah lagi sama gue.”
Dari dalam ruangan, Refi menutup telinganya dengan bantal. Lalu diam dan berpikir. Lakuin apa aja? Ulangnya dalam hati. Ia langsung tersenyum penuh arti. Dan dengan cepat membuka pintu kamarnya. “Gue mau kita tukeran. Gue mau satu minggu ini gue jadi lo. Dan lo jadi gue.”
Rafi sontak kaget dengan syarat yang diajukan Refi. Ia tak membayangkan bagaimana kalau itu benar terjadi. Tapi tak ada jalan lain. Ia sudah berjanji melakukan apapun asal Refi memaafkannya. Ia harus setuju.
Dan jadilah hari ini Rafi duduk di kursi Refi. Memakai baju Refi. Sementara Refi sangat senang dengan keadaan ini. Dimana saat pagi Ia disambut senyuman cewek-cewek. Dan tentu saja Stefani. Dimana Bu Ros yang selalu galak padanya, kini tersenyum dan mengelu-elukan dirinya. Satu minggu bukanlah waktu yang panjang. Refi akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Nyatanya Refi benar-benar kejam. Ia melakukan apapun yang sangat bertolakbelakang dengan yang dilakukan Rafi selama ini. Refi nekat tidak membuat pr fisika. Mengerjai teman sekelasnya. Mendekati perempuan lain hingga membuat Stefani marah. Dan bermain asal-asalan saat latihan basket.
Ternyata waktu seminggu adalah waktu yang cukup bagi Refi untuk membuat semua orang membenci Rafi. Dan sebaliknya, Rafi yang bersikap manis malah membuat orang-orang menyukai Refi. Memang teman-temannya merasa ada yang aneh. Tapi mereka tak pernah berpikir sekalipun bahwa Rafi dan Refi itu bertukar posisi.
“Gak terasa, hari ini hari terakhir gue jadi lo, ya?” Tanya Refi dengan senyum puas di suatu sore.
“Iya, hari terakhir lo bikin image gue jadi kacau di mata orang. Tapi gak apa-apa. Gue rela kok. Gue bahkan rela berpura-pura bodoh selamanya asal kita nggak bertengkar. Gue rela.” Rafi mengucapkan itu sambil menunduk. Ia sadar, pasti akan sulit untuk melakukan itu. Tapi sesulit apapun, Rafi akan tetap melakukannya demi Refi.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Daily Life Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei