SAUDARA KEMBAR
Hari
ini adalah hari pertama bagi mereka duduk di bangku SMA. Refi dan Rafi
beruntung karena dapat lulus ke sekolah ini. Sekolah yang mereka dambakan sejak
dulu. Tapi Refi tetap saja tak bisa tersenyum. Ia muak harus satu sekolah lagi dengan
Rafi, abangnya yang dua menit lebih tua darinya.
Refi
takut kejadian-kejadian sebelumnya akan terulang lagi. Dimana Rafi dielu-elukan
di sekolah. Dan dia hanya terlihat sebagai benalu yang numpang hidup. Numpang
beken. Secara fisik, mereka terlihat nyaris sama. Tapi secara sifat, kemampuan
berpikir, dan sebagainya, Refi jelas tak bisa bersaing dengan saudara kembarnya
itu.
Sebenarnya
Refi sangat berharap bisa berbeda sekolah dengan Rafi. Agar dia bisa kreatif
sendiri, tanpa ada bayang-bayang Rafi yang terkenal. “Refi, kamu harus satu
sekolah sama abang kamu. Kalau tidak, nanti siapa yang menjagamu di sekolah?”
Ujar Mama beberapa hari silam. Saat mendengar itu, rasanya Refi ingin
membanting sendok yang sedang Ia genggam. Refi muak dengan situasi seperti ini.
Sekarang
Refi hanya berharap, bahwa Rafi takkan seterkenal dulu. Tidak sepintar dulu.
Tapi
ternyata, seminggu kemudian, harapan itu mulai musnah. Hanya dalam hitungan
hari, nama Rafi mulai dikenal di penjuru sekolah. Karena kemampuannya dalam
bidang fisika. Karena kelincahannya dalam memainkan bola basket. Karena
ketampanannya. Karena gaya berbusananya yang menarik. Dan lain-lain! Hal ini
membuat Refi semakin membenci Rafi. Menurutnya, Rafi seakan tak memberikan Ia
sedikitpun ruang untuk bisa setara dengannya.
“Lo
kok nggak ngerjain pr mtk sih, tadi?” Tanya Rafi di suatu malam.
“Kenapa?
Lo senang kan, gue dimarahin di depan kelas?” Tanya Refi balik.
“Lo
kok sinis gitu, sih? Kalau lo gak ngerti pr nya, lo kan bisa bilang ke gue,
biar kita kerjain bareng.”
Refi
hanya mendengus kesal. Lalu beranjak menuju tempat tidur. Mematikan lampu, dan
mencoba tidur secepatnya.
Hari
ini agak berbeda. Refi bertemu dengan anak kelas sebelah yang bernama Stefani.
Anaknya cantik dan ramah. Semenjak kehadiran Stefani, Refi tak terlalu
menghiraukan kakaknya itu. Ia hanya terus berusaha mendekati Stefani. “Fan,
besok kan libur. Lo mau gak, nemenin gue ke toko kaset?”
“Boleh,
aku juga mau lihat-lihat. Kita ketemu di toko kasetnya aja ya, Ref?” Jawab
Stefani. Mendengar jawaban tersebut, Refi langsung tersenyum lebar. Ia tak
menyangka Stefani akan menerima ajakannya. Refi pikir, Stefani sama dengan
cewek-cewek lain, yang jelas-jelas lebih tertarik pada Rafi.
Semakin
hari, Refi semakin dekat dengan Stefani. Mereka sering ke Mall bersama, belajar
bersama dan sebagainya. Refi tak mau cerita sedikitpun tentang Stefani pada
Rafi. Refi takut, abangnya itu bisa saja merebut Stefani darinya. Dan Refi
tentu tidak mau itu terjadi.
“Ref,
sorry ya. Kayaknya kedekatan kita sampai di sini aja, deh. Sebenarnya… mmm..
Gue udah jadian sama Rafi tadi malam. Sorry banget, Ref.” Refi kaget bukan
main. Ternyata selama ini Stefani mendekatinya hanya untuk mencari informasi
tentang Rafi. Pantas saja Stef sering bertanya tentang Rafi. Refi sedih luar
biasa. Ia merasa seperti ada bongkahan batu besar yang menimpuk dadanya.
Ketakutannya selama ini ternyata benar. Rafi merebut Stefani darinya. Refi
tidak bisa terus diam. Refi tak bisa terus menerima perlakuan Rafi. “Jadi lo
jadian sama Stef? Lo gak tau apa kalau selama ini gue suka sama dia? Lo gak tau
selama ini gue deket sama dia? Lo emang jahat, ya? Teganya lo rebut sisa
kebahagiaan gue. Gue tau kok, lo emang lebih dari gue. Oh iya, lo baru diangkat
jadi Kapten Basket, ya? Terus, gimana olimpiade Fisika lo? Lo emang hebat, Raf.
Sementara gue gak lebih dari siswa terpinggir di sekolah..”
“Jadi
Stefani itu gebetan lo? Ref, gue benar-benar minta maaf. Gue gak tau lo suka
sama dia. Kalau lo mau, gue bisa putusin dia sekarang.”
“Gak
perlu, gue udah terlanjur jijik sama dia.” Ucap Refi sambil berlalu. Lalu
membanting pintu kamarnya dengan kasar. Sementara itu Rafi terduduk. Ia tak
menyangka sama sekali bahwa Refi dekat dengan Stefani. Baik Refi maupun Stefani
tak pernah bercerita tentang hubungan mereka padanya. Rafi tahu, sekarang Refi
pasti sangat kecewa. Ia ingin memutuskan Stefani sekarang juga. Tapi Ia sadar,
itu tak kan ada gunanya. Ia ingin melakukan apa saja yang dapat mengobati luka
Refi. Tapi Ia tak tahu bagaimana caranya.
Lalu
Rafi bangkit. Ia berjalan lesu menuju pintu kamar adiknya. Lalu mencoba
membukanya. Tapi gagal, ruangan itu terkunci. Tak seperti biasanya. “Ref,
maafin gue, ya? Gue tahu kok, gue salah. Gue bakal lakuin apa aja asal lo gak
marah lagi sama gue.”
Dari
dalam ruangan, Refi menutup telinganya dengan bantal. Lalu diam dan berpikir. Lakuin apa aja? Ulangnya dalam hati. Ia
langsung tersenyum penuh arti. Dan dengan cepat membuka pintu kamarnya. “Gue
mau kita tukeran. Gue mau satu minggu ini gue jadi lo. Dan lo jadi gue.”
Rafi
sontak kaget dengan syarat yang diajukan Refi. Ia tak membayangkan bagaimana
kalau itu benar terjadi. Tapi tak ada jalan lain. Ia sudah berjanji melakukan
apapun asal Refi memaafkannya. Ia harus setuju.
Dan
jadilah hari ini Rafi duduk di kursi Refi. Memakai baju Refi. Sementara Refi
sangat senang dengan keadaan ini. Dimana saat pagi Ia disambut senyuman
cewek-cewek. Dan tentu saja Stefani. Dimana Bu Ros yang selalu galak padanya,
kini tersenyum dan mengelu-elukan dirinya. Satu minggu bukanlah waktu yang
panjang. Refi akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Nyatanya
Refi benar-benar kejam. Ia melakukan apapun yang sangat bertolakbelakang dengan
yang dilakukan Rafi selama ini. Refi nekat tidak membuat pr fisika. Mengerjai
teman sekelasnya. Mendekati perempuan lain hingga membuat Stefani marah. Dan
bermain asal-asalan saat latihan basket.
Ternyata
waktu seminggu adalah waktu yang cukup bagi Refi untuk membuat semua orang
membenci Rafi. Dan sebaliknya, Rafi yang bersikap manis malah membuat
orang-orang menyukai Refi. Memang teman-temannya merasa ada yang aneh. Tapi
mereka tak pernah berpikir sekalipun bahwa Rafi dan Refi itu bertukar posisi.
“Gak
terasa, hari ini hari terakhir gue jadi lo, ya?” Tanya Refi dengan senyum puas
di suatu sore.
“Iya,
hari terakhir lo bikin image gue jadi kacau di mata orang. Tapi gak apa-apa.
Gue rela kok. Gue bahkan rela berpura-pura bodoh selamanya asal kita nggak
bertengkar. Gue rela.” Rafi mengucapkan itu sambil menunduk. Ia sadar, pasti
akan sulit untuk melakukan itu. Tapi sesulit apapun, Rafi akan tetap
melakukannya demi Refi.