Jumat, 05 Oktober 2012

Ketika Hujan Menghapus Semua...

Diposting oleh Unknown di 23.13

Siang  beranjak  sore. Bel SMA  Sebangsa  berbunyi  memutuskan  pelajaran  di  hari  ini.   Semua  murid  tak  perduli,  apa  guru  sudah  selesai  berbicara  atau  belum.  Saat  bel  pulang,    yang  biasa  kami  lakukan  adalah  menghirup  nafas  lega.  Lega  sekali.  Akhirnya  segala  kepenatan  berakhir.
Lalu  tanpa  aba-aba  dari  sang  guru, kami langsung saja mengepak semua buku dan alat tulis lain yang berserakan di atas meja. Kertas coret-coretan hasil imajinasi yang begitu jenuh mendengar penjelasan guru dicampakkan begitu saja. Padahal di dinding kelas, di pojok papan tulis, di setiap tembok dan sudut sekolah, juga di wc-wc sekolah sudah tertempel jelas satu atau dua kertas yang bertuliskan “buanglah sampah pada tempatnya”, “kebersihan sebagian dari iman” atau “keep your school clean” dan lain sebagainya. Kami sebagai murid, hanya bersikap acuh tak acuh.
Aku dan Kiran berjalan meninggalkan pintu kelas. Kami sedikit keberatan dengan bawaan kami. Buku-buku yang tebal ini membuatku sangat malas untuk berjalan. Kami berdua mulai berjalan sampai langkah kami terhenti karena ucapan Kiran.  “Ya ampun Cle, sumpah aku lupa! Aku ‘kan harus piket hari ini. Mm aku piket dulu, ya? Kamu ga papa ‘kan jalan sendiri?” ujar Kiran yang sedikit panik. Aku hanya bisa mengangguk pasrah menyutujuinya.
Aku kemudian berjalan lesu membawa semua barangku ini. Tiba-tiba ponsel yang kutaruh disaku bergetar. Kulepaskan beberapa barang di tangan, kuraih ponselku. Di layarnya ada tulisan ‘Mama’, segera kuangkat. “halo, Ma?”
 “Cle, Mama ada urusan mendadak nih, Papa juga masih di kantor, ada rapat. Kamu bisa nggak pulang sendiri?”
“Pulang sendiri? Pulang sendiri gimana?” Mana bisa aku pulang sendiri. Maksudnya jalan kaki? Gila aja, dari sini ke rumah itu lebih 15 km tauuu. Terus naik bis? Mampus! Aku gak pengalaman banget naik yang gituan. Selama ini aku diantar jemput sama Mama atau Papa. Aku emang beda dengan Trila—kakakku. Ia sering naik Bus Transmetro dari sekolahnya ke rumah. Dia sudah biasa. Aku ini sebenarnya cuma anak ingusan yang masih di ketiak Ibunya. Ga sadar umur orang bilang. Mengingat aku sudah SMA!
“Maksud Mama apa sih? Emang urusannya sampai jam berapa?” tanyaku kesal.
“Ya nggak tau, sorry deh, Cle. Ini memang mendadak. Pokoknya kamu usahain aja deh ya, gimana kamu pulang. Atau naik taksi?”
“Taksi? Ongkosnya? Cleo ga ada uang.” Jawabku masih ketus.
“Ntar sampe rumah minjem uang Bi Yul aja dulu. Ya? Mama buru-buru nih.” Tit-tit-tit-tit. Aaah! Gimana dong? Gini nih, kalau punya orangtua yang workaholic kedua-duanya. Selalu menomor satukan pekerjaan, dan anaknya? Terlantar gak tau arah di sini.
Karena keragu-raguan, aku memutar arah. Bermaksud kembali ke kelas. Mencari Kiran, aku harap dia punya solusi yang tepat.
Dari ambang pintu kelas aku melihat Kiran masih sibuk menyapu sampah yang ada dimana-mana. Kasian juga ngeliatnya.
“Woi! Apaan liat-liat?”
“Eh, sorry mbak office girl.”
“Kampret. Kok gak jadi balik?”
“Tau nih orangtua! Sibuk sama kerjaannya aja. Aku gak tau pulang sama siapa.”
“Gak ada yang bisa jemput?” Tanya Kiran. Aku menggeleng kesal.
“Mmm.” Iih, si Kiran mah, kebanyakan ‘mmm’ nya. Udah bingung gini.
“Gini aja, kamu bantuin aku piket dulu, terus soal kepulangan kamu ke rumah kita pikirin nanti.” Tandasnya kejam. Aku jadi semakin kacau dibuatnya. Bawaan banyak lagi. Uuh, gak jumpa solusi juga ketemu sama Kiran! “Kamu pasti lagi menggerutu dalam hati, kalau aku sama sekali gak ngasih solusi ‘kan? Dasar sok uzon!” Aku tidak menyahut. Hanya bengong memikirkan bagaimana nasibku. Rumahku jaraknya lumayan jauh, jauh malah.  “Ntar aku antar.”
“Beneran Ran?”
“Iyaaa. Udah cepat, bantuin dulu.”
Setelah membersihkan seisi kelas dan membuat kelas menjadi kinclong, aku dan Kiran berjalan menuruni tangga dan bergegas menuju parkiran, berharap kalau Kiran udah dijemput sama supirnya. Terus dia ngantarin aku dengan selamat nyampe rumah, gratis dan aku gak perlu keluarin tenaga. Sip sip. Tuhan emang maha mendengar. “Eh, itu mobil aku. Yuk!” ucap Kiran sambil menunjuk sebuah mobil sedan mewah berwarna merah marun. “Eh, Ran, kamu yakin itu mobil kamu? Aku gak pernah liat kamu pake mobil ini sebelumnya.”
“Yakin kok. Mobil ini emang jarang dipake. Soalnya yang biasa makai Mama aku, Mama aku kan masih di Aussy.” Aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kiran. Bodo amat yang biasa makai Mamanya atau Neneknya, yang penting dapet tumpangan gratis! Hehe.
Kiran membuka pintu mobil, aku menyusul dari belakang.
“Surprise!”
“Mama?”
“Iya sayang, ini Mama. Kamu pasti kaget ya, kenapa Mama pulang gak ngasih kamu kabar? Entar Mama ceritain deh. Sekarang Mama mau ngajak kamu shopping dulu, kita ‘kan udah lama gak shopping bareng.”
“Aduuh, sorry banget nih, Cle. Aku beneran gak tau kalau Mama aku yang bakal jemput. Mama aku malah ngajak shopping lagi. Jadi aku ga bisa nganterin kamu. Maaf ya, Cle. Maaf bangeet.”
Kampret lo, Ran. Tau gini aku udah nyari tumpangan lain. Malah udah capek-capek bantuin dia piket. “Iya deh, ga apa-apa.”
“Ya udah, aku duluan yaa. Daaa.”
Iiih. Sekarang gimana dong? Udah senang-senang dapat tumpangan malah gini jadinya. Apa aku harus balik ke rencana awal? Nelpon taksi? Huuft. Kayaknya itu satu-satunya cara. Aku langsung mengambil ponsel di saku rokku. Kutekan salah satu nomor taksi argo. Untung yang aku ingat yang paling murah. Hehe, ketauan kerenya. “Maaf, sisa pulsa yang anda miliki…”
“What??!! Dalam keadaan genting gini pulsa aku bisa habis?! Mampus! Tuhaaan, kok ngeri banget sih, cobaannya. Malah sekolah udah sepi gini.” Aku mengeluh sambil melihat deretan kursi tunggu sekolah yang kini mulai sepi. Hanya ada dua orang adik kelas dan satu kakak kelas. Duuuh, gimana ya? Batinku dalam hati. Dengan raut wajah kebingungan, aku beringsut-ingsut dengan semua bawaanku menuju kursi tunggu. Ada juga pikiranku untuk meminjam handphone adik kelas, tapi… gengsi bo’, gengsi. Hari gini ada kakak kelas yang minjem hape sama juniornya? Kalau iya, pasti tu adek kelas yang udah berjasa minjemin hape ke seniornya bakal bangga banget dan besok, junior yang pada sengak itu pasti udah ngomongin aku dan gak bakal naruh rasa hormat lagi sama aku. Enggak, enggak. Walau gimanapun, wibawa harus tetap dijaga. Hmm. Atau minjem hape kakak kelas, iya bener! Tapiii, haduuh, kenapa sih, hari ini kakak kelas yang lama dijemput malah yang satu ini, kak Vero! Jelas aja aku nggak berani. Dia itu wakil Ketua Osis yang amat disegani dan ditakuti para juniornya, termasuk aku. Jelas nggak mungkinlah rencana yang satu ini. Hoaaam. Jadi yang mungkin apa nih? Berpikir Cleo, berpikir.
Fiuuh. Setelah lama berpikir, keputusanku adalah: menunggu taksi lewat di depan sekolah.
Tak lama hujanpun datang dengan derasnya, petir, guruh, semuanya yang jelek-jelek ikutan datang. Dan sampai sekarang, satu jam setelah aku berhenti berpikir, taksi tak kunjung nongol di jalan depan sekolah. Aku semakin pasrah dan gelisah, gak ada telpon dari Mama atau Papa. Orang-orang yang tersisa tadipun sudah pergi semua. Aku? Ya sendiri. Huff. Mau nangis rasanya, tapi aku coba pasrah.
Seketika lamunanku terhenti oleh suara gaduh dari ujung tangga. Kulirik sekilas, dan disana ada… Kak Leo! Mampus! Leo and The Geng! Ini nama yang paling aku benci seumur hidup, Leo orangnya. Dia yang menghukum aku menyuci baju basketnya di WC sekolah karena aku telat waktu MOS. Emang udah hampir dua tahun berlalu, tapi sejak waktu itu, aku selalu berusaha buat menghindar dari dia. Selain karena aku benci, aku juga takut sama dia.
Druuum.. druum.. “Duluan ya, Bos!” teriak salah seorang kancut-kancutnya Leo. Sekarang tinggal Leo sendiri di parkiran, dan aku sendiri di kursi tunggu. Jaraknya, cuma 10 meter. Aku lihat Leo sedang mengambil helm dari bagasi motornya. Lalu memakainya dan langsung naik ke motor Kawasaki hitam—yang asli, keren abiis.
Druuum.. druum.. Ia melesat cepat, aku pura-pura gak liat. Tapi yang ada, dia berhenti tepat di depanku. Haduuh.. mati aku! Pasti dia mau ngetawain aku ‘kan? Huuh!
“Belum dijemput?”
“Hah?”
“Belum dijemput?” kali ini dengan intonasi yang berbeda. Aku sontak kaget dengan pertanyaannya. “Bukan belum, tapi enggak.”
Kemudian Ia kelihatannya berpikir sejenak, aku masih dag-dig-dug di sini. “Ya udah, naik.”
“Apa?!”
“Lo budeg ya? Naik gua bilang!” Gimana, ya? Aku sih, bersyukur banget ada yang bersedia nganterin aku pulang. Tapi ini lo, orangnya, mmm… ntar aku diapa-apain lagi.
“Gua gak minat kok, sama lo. Udah naik aja.” Kampret ni orang, siapa lagi yang bilang dia minat sama aku. Hmm. Kayaknya ini satu-satunya jalan, kalau nggak, aku bisa mati kedinginan di sini sampe besok.
Aku pun berdiri dan mengambil semua barang-barangku yang sedari tadi kutaruh di kursi di sebelahku. Dan dengan hati-hati menghampiri sosok tinggi yang ganteng dan menyebalkan ini.
“Mmm. Tapi rumah saya jauh kak. Hari juga hujan.”
“Yang bilang gua mau nganter lo sampe rumah siapa? Udah, naik aja. Gua anter sampe halte.” Buseet. Dasar songong ni orang, kirain.
Akhirnya, aku menemukan diriku sudah berada di goncengan motor milik Leo. Dia kayaknya sangat gak perduli dengan nasibku dan bawaanku yang semakin basah di bangku belakang. Sesampainya di depan halte, Leo menghentikan sepeda motornya. Ia lalu melirik halte yang sesak karena orang yang berteduh. “Haltenya sesak gitu, yakin lo mau turun?”
 “Mmm..”
“Rumah lo dimana?”
“Sebelum Bogor.”
“Pake nih.” Leo menyodorkan jaket hitam yang tadi Ia kenakan. Dengan tidak banyak omong, langsung saja kupakai jaket itu. Gantian, biar sekarang dia yang kuyup.
Akhirnya, aku sampai di rumah dengan selamat walau sedikit meriang. Tapi aku bersyukur, dengan keselamatanku ini. Gak tau deh, seandainya tadi Leo gak datang. Batinku sambil tersenyum.
Sejak hari itu, rasa benciku terhadap Leo sontak berubah. Aku jadi kagum padanya. Kagum? Tidak sekedar kagum, aku mulai jatuh hati padanya. Dan perasaanku ini tidak bertepuk sebelah tangan. Seminggu setelah hari itu, Leo menyatakan perasaannya padaku di kantin sekolah. Aku tentu tidak mungkin menolaknya, karena yang pertama, aku memang suka padanya, dan yang kedua, tak mungkin junior berani menolak senior.
Dan jadilah hari-hariku di sekolah makin aduhay. Namaku mulai dikenal di seantero sekolah, padahal sebelumnya Aku bukanlah siswa yang dikenal, karena muka pas-pasan, otak pas-pasan dan materil yang juga pas-pasan. Tapi menurut Leo, cinta bukanlah hal yang dipandang dari fisik, otak, maupun kekayaan. Cinta adalah sesuatu yang datang dari hati.
Dan aku, masih berbunga-bunga dengan adanya Leo di sisiku. Aku semakin menyayanginya, begitupun dia. Sudah hampir tiga bulan kami bersama, tak ada satupun hal yang membuat aku kecewa terhadapnya.
----------------------------------------------------------------------------------
Sore yang mencekam di sekolah, aku tinggal sendiri diantara hujan. Papa masih di jalan 20 kilometer dari sini. Kejebak macet pula. Seperti de javu, aku teringat akan sore itu. Sore dimana perasaanku terhadap Leo berubah, sore dimana Leo membentakku dalam kekhawatirannya. Ah, manis sekali kalau dikenang.
Tapi sore ini beda, Leo tak datang dengan motor Kawasaki hitamnya. Yang kutau, kemarin sore Ia mengirimiku sebuah pesan melalu blackberry messenger yang berisi bahwa Ia dan Mamanya akan berangkat ke Medan, menghadiri rapat keluarga katanya. Tapi tadi pagi dia kembali mengirimi aku pesan ‘bbm’ yang berisi ‘aku udah beli tiket jam 3. Kita bakal ketemu secepatnya.’
Senja jam 6 sore. Aku berkali-kali mencoba ‘PING!!!’ Leo. Tapi tak ada tanggapan, aku telpon selalu tidak aktif. Dan jam 6 lewat 15 kak Dipo, kawan se-geng Leo meneleponku. Pasti Cuma mau bilang ‘Leo bareng kami, kok. Udah gak usah cemas. Pake bikin status kehilangan segala.’ Dengan nada mengejeknya yang khas. Tapi tidak, dugaanku salah. “Cle, lo udah dapet kabar atau buka TV belum?”
“Belum. Kenapa? Mau bilang ada episode spongebob yang selama ini kakak cari?”
“Bukan. Mmm. Pesawat Leo kecelakaan karena kabut dan hujan deras. Gua juga ga ngerti gimana detilnya. Tapi.. mmm.. Leo sama mamanya udah masuk daftar korban meninggal. Kita ngumpul di rumah gua ya, sekarang…” tit tit tit tit. Hujan, dalam kalut kau hadir, dalam cinta kau pasti. Hujan, kini kau hapus semua.. Cintaku, kasihku...***


0 komentar:

Posting Komentar

 

Daily Life Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei