Siang beranjak sore. Bel SMA
Sebangsa berbunyi memutuskan pelajaran di
hari ini. Semua murid tak perduli,
apa guru sudah selesai berbicara atau
belum. Saat bel pulang, yang
biasa kami lakukan adalah menghirup nafas
lega. Lega sekali. Akhirnya segala
kepenatan berakhir.
Lalu tanpa aba-aba dari
sang guru, kami langsung saja mengepak semua buku dan alat tulis
lain yang berserakan di atas meja. Kertas coret-coretan hasil imajinasi yang
begitu jenuh mendengar penjelasan guru dicampakkan begitu saja. Padahal di
dinding kelas, di pojok papan tulis, di setiap tembok dan sudut sekolah, juga
di wc-wc sekolah sudah tertempel jelas satu atau dua kertas yang bertuliskan
“buanglah sampah pada tempatnya”, “kebersihan sebagian dari iman” atau “keep
your school clean” dan lain sebagainya. Kami sebagai murid, hanya bersikap acuh
tak acuh.
Aku dan Kiran berjalan meninggalkan pintu
kelas. Kami sedikit keberatan dengan bawaan kami. Buku-buku yang tebal ini
membuatku sangat malas untuk berjalan. Kami berdua mulai berjalan sampai
langkah kami terhenti karena ucapan Kiran. “Ya ampun Cle, sumpah aku
lupa! Aku ‘kan harus piket hari ini. Mm aku piket dulu, ya? Kamu ga papa ‘kan
jalan sendiri?” ujar Kiran yang sedikit panik. Aku hanya bisa mengangguk pasrah
menyutujuinya.
Aku kemudian berjalan lesu membawa semua
barangku ini. Tiba-tiba ponsel yang kutaruh disaku bergetar. Kulepaskan
beberapa barang di tangan, kuraih ponselku. Di layarnya ada tulisan ‘Mama’,
segera kuangkat. “halo, Ma?”
“Cle, Mama ada urusan mendadak nih,
Papa juga masih di kantor, ada rapat. Kamu bisa nggak pulang sendiri?”
“Pulang sendiri? Pulang sendiri gimana?” Mana
bisa aku pulang sendiri. Maksudnya jalan kaki? Gila aja, dari sini ke rumah itu
lebih 15 km tauuu. Terus naik bis? Mampus! Aku gak pengalaman banget naik yang
gituan. Selama ini aku diantar jemput sama Mama atau Papa. Aku emang beda
dengan Trila—kakakku. Ia sering naik Bus Transmetro dari sekolahnya ke rumah.
Dia sudah biasa. Aku ini sebenarnya cuma anak ingusan yang masih di ketiak
Ibunya. Ga sadar umur orang bilang. Mengingat aku sudah SMA!
“Maksud Mama apa sih? Emang urusannya sampai
jam berapa?” tanyaku kesal.
“Ya nggak tau, sorry deh, Cle. Ini memang
mendadak. Pokoknya kamu usahain aja deh ya, gimana kamu pulang. Atau naik
taksi?”
“Taksi? Ongkosnya? Cleo ga ada uang.” Jawabku
masih ketus.
“Ntar sampe rumah minjem uang Bi Yul aja
dulu. Ya? Mama buru-buru nih.” Tit-tit-tit-tit. Aaah! Gimana dong? Gini nih,
kalau punya orangtua yang workaholic kedua-duanya. Selalu menomor satukan
pekerjaan, dan anaknya? Terlantar gak tau arah di sini.
Karena keragu-raguan, aku memutar arah.
Bermaksud kembali ke kelas. Mencari Kiran, aku harap dia punya solusi yang
tepat.
Dari ambang pintu kelas aku melihat Kiran
masih sibuk menyapu sampah yang ada dimana-mana. Kasian juga ngeliatnya.
“Woi! Apaan liat-liat?”
“Eh, sorry mbak office girl.”
“Kampret. Kok gak jadi balik?”
“Tau nih orangtua! Sibuk sama kerjaannya aja.
Aku gak tau pulang sama siapa.”
“Gak ada yang bisa jemput?” Tanya Kiran. Aku
menggeleng kesal.
“Mmm.” Iih, si Kiran mah, kebanyakan ‘mmm’
nya. Udah bingung gini.
“Gini aja, kamu bantuin aku piket dulu, terus
soal kepulangan kamu ke rumah kita pikirin nanti.” Tandasnya kejam. Aku jadi
semakin kacau dibuatnya. Bawaan banyak lagi. Uuh, gak jumpa solusi juga ketemu
sama Kiran! “Kamu pasti lagi menggerutu dalam hati, kalau aku sama sekali gak
ngasih solusi ‘kan? Dasar sok uzon!” Aku tidak menyahut. Hanya bengong
memikirkan bagaimana nasibku. Rumahku jaraknya lumayan jauh, jauh malah.
“Ntar aku antar.”
“Beneran Ran?”
“Iyaaa. Udah cepat, bantuin dulu.”
Setelah membersihkan seisi kelas dan membuat
kelas menjadi kinclong, aku dan Kiran berjalan menuruni tangga dan bergegas
menuju parkiran, berharap kalau Kiran udah dijemput sama supirnya. Terus dia
ngantarin aku dengan selamat nyampe rumah, gratis dan aku gak perlu keluarin
tenaga. Sip sip. Tuhan emang maha mendengar. “Eh, itu mobil aku. Yuk!” ucap
Kiran sambil menunjuk sebuah mobil sedan mewah berwarna merah marun. “Eh, Ran,
kamu yakin itu mobil kamu? Aku gak pernah liat kamu pake mobil ini sebelumnya.”
“Yakin kok. Mobil ini emang jarang dipake.
Soalnya yang biasa makai Mama aku, Mama aku kan masih di Aussy.” Aku
manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kiran. Bodo amat yang biasa makai
Mamanya atau Neneknya, yang penting dapet tumpangan gratis! Hehe.
Kiran membuka pintu mobil, aku menyusul dari
belakang.
“Surprise!”
“Mama?”
“Iya sayang, ini Mama. Kamu pasti kaget ya,
kenapa Mama pulang gak ngasih kamu kabar? Entar Mama ceritain deh. Sekarang
Mama mau ngajak kamu shopping dulu, kita ‘kan udah lama gak shopping bareng.”
“Aduuh, sorry banget nih, Cle. Aku beneran
gak tau kalau Mama aku yang bakal jemput. Mama aku malah ngajak shopping lagi.
Jadi aku ga bisa nganterin kamu. Maaf ya, Cle. Maaf bangeet.”
Kampret lo, Ran. Tau gini aku udah nyari
tumpangan lain. Malah udah capek-capek bantuin dia piket. “Iya deh, ga
apa-apa.”
“Ya udah, aku duluan yaa. Daaa.”
Iiih. Sekarang gimana dong? Udah
senang-senang dapat tumpangan malah gini jadinya. Apa aku harus balik ke
rencana awal? Nelpon taksi? Huuft. Kayaknya itu satu-satunya cara. Aku langsung
mengambil ponsel di saku rokku. Kutekan salah satu nomor taksi argo. Untung
yang aku ingat yang paling murah. Hehe, ketauan kerenya. “Maaf, sisa pulsa yang
anda miliki…”
“What??!! Dalam keadaan genting gini pulsa
aku bisa habis?! Mampus! Tuhaaan, kok ngeri banget sih, cobaannya. Malah
sekolah udah sepi gini.” Aku mengeluh sambil melihat deretan kursi tunggu
sekolah yang kini mulai sepi. Hanya ada dua orang adik kelas dan satu kakak
kelas. Duuuh, gimana ya? Batinku dalam hati. Dengan raut wajah kebingungan, aku
beringsut-ingsut dengan semua bawaanku menuju kursi tunggu. Ada juga pikiranku
untuk meminjam handphone adik kelas, tapi… gengsi bo’, gengsi. Hari gini ada
kakak kelas yang minjem hape sama juniornya? Kalau iya, pasti tu adek kelas
yang udah berjasa minjemin hape ke seniornya bakal bangga banget dan besok,
junior yang pada sengak itu pasti udah ngomongin aku dan gak bakal naruh rasa
hormat lagi sama aku. Enggak, enggak. Walau gimanapun, wibawa harus tetap
dijaga. Hmm. Atau minjem hape kakak kelas, iya bener! Tapiii, haduuh, kenapa
sih, hari ini kakak kelas yang lama dijemput malah yang satu ini, kak Vero!
Jelas aja aku nggak berani. Dia itu wakil Ketua Osis yang amat disegani dan
ditakuti para juniornya, termasuk aku. Jelas nggak mungkinlah rencana yang satu
ini. Hoaaam. Jadi yang mungkin apa nih? Berpikir Cleo, berpikir.
Fiuuh. Setelah lama berpikir, keputusanku
adalah: menunggu taksi lewat di depan sekolah.
Tak lama hujanpun datang dengan derasnya,
petir, guruh, semuanya yang jelek-jelek ikutan datang. Dan sampai sekarang,
satu jam setelah aku berhenti berpikir, taksi tak kunjung nongol di jalan depan
sekolah. Aku semakin pasrah dan gelisah, gak ada telpon dari Mama atau Papa.
Orang-orang yang tersisa tadipun sudah pergi semua. Aku? Ya sendiri. Huff. Mau
nangis rasanya, tapi aku coba pasrah.
Seketika lamunanku terhenti oleh suara gaduh
dari ujung tangga. Kulirik sekilas, dan disana ada… Kak Leo! Mampus! Leo and
The Geng! Ini nama yang paling aku benci seumur hidup, Leo orangnya. Dia yang
menghukum aku menyuci baju basketnya di WC sekolah karena aku telat waktu MOS.
Emang udah hampir dua tahun berlalu, tapi sejak waktu itu, aku selalu berusaha
buat menghindar dari dia. Selain karena aku benci, aku juga takut sama dia.
Druuum.. druum.. “Duluan ya, Bos!” teriak
salah seorang kancut-kancutnya Leo. Sekarang tinggal Leo sendiri di parkiran,
dan aku sendiri di kursi tunggu. Jaraknya, cuma 10 meter. Aku lihat Leo sedang
mengambil helm dari bagasi motornya. Lalu memakainya dan langsung naik ke motor
Kawasaki hitam—yang asli, keren abiis.
Druuum.. druum.. Ia melesat cepat, aku
pura-pura gak liat. Tapi yang ada, dia berhenti tepat di depanku. Haduuh.. mati
aku! Pasti dia mau ngetawain aku ‘kan? Huuh!
“Belum dijemput?”
“Hah?”
“Belum dijemput?” kali ini dengan intonasi
yang berbeda. Aku sontak kaget dengan pertanyaannya. “Bukan belum, tapi
enggak.”
Kemudian Ia kelihatannya berpikir sejenak,
aku masih dag-dig-dug di sini. “Ya udah, naik.”
“Apa?!”
“Lo budeg ya? Naik gua bilang!” Gimana, ya?
Aku sih, bersyukur banget ada yang bersedia nganterin aku pulang. Tapi ini lo,
orangnya, mmm… ntar aku diapa-apain lagi.
“Gua gak minat kok, sama lo. Udah naik aja.”
Kampret ni orang, siapa lagi yang bilang dia minat sama aku. Hmm. Kayaknya ini
satu-satunya jalan, kalau nggak, aku bisa mati kedinginan di sini sampe besok.
Aku pun berdiri dan mengambil semua
barang-barangku yang sedari tadi kutaruh di kursi di sebelahku. Dan dengan
hati-hati menghampiri sosok tinggi yang ganteng dan menyebalkan ini.
“Mmm. Tapi rumah saya jauh kak. Hari juga
hujan.”
“Yang bilang gua mau nganter lo sampe rumah
siapa? Udah, naik aja. Gua anter sampe halte.” Buseet. Dasar songong ni orang,
kirain.
Akhirnya, aku menemukan diriku sudah berada
di goncengan motor milik Leo. Dia kayaknya sangat gak perduli dengan nasibku
dan bawaanku yang semakin basah di bangku belakang. Sesampainya di depan halte,
Leo menghentikan sepeda motornya. Ia lalu melirik halte yang sesak karena orang
yang berteduh. “Haltenya sesak gitu, yakin lo mau turun?”
“Mmm..”
“Rumah lo dimana?”
“Sebelum Bogor.”
“Pake nih.” Leo menyodorkan jaket hitam yang
tadi Ia kenakan. Dengan tidak banyak omong, langsung saja kupakai jaket itu.
Gantian, biar sekarang dia yang kuyup.
Akhirnya, aku sampai di rumah dengan selamat
walau sedikit meriang. Tapi aku bersyukur, dengan keselamatanku ini. Gak tau
deh, seandainya tadi Leo gak datang. Batinku sambil tersenyum.
Sejak hari itu, rasa benciku terhadap Leo
sontak berubah. Aku jadi kagum padanya. Kagum? Tidak sekedar kagum, aku mulai
jatuh hati padanya. Dan perasaanku ini tidak bertepuk sebelah tangan. Seminggu
setelah hari itu, Leo menyatakan perasaannya padaku di kantin sekolah. Aku
tentu tidak mungkin menolaknya, karena yang pertama, aku memang suka padanya,
dan yang kedua, tak mungkin junior berani menolak senior.
Dan jadilah hari-hariku di sekolah makin
aduhay. Namaku mulai dikenal di seantero sekolah, padahal sebelumnya Aku
bukanlah siswa yang dikenal, karena muka pas-pasan, otak pas-pasan dan materil
yang juga pas-pasan. Tapi menurut Leo, cinta bukanlah hal yang dipandang dari
fisik, otak, maupun kekayaan. Cinta adalah sesuatu yang datang dari hati.
Dan aku, masih berbunga-bunga dengan adanya
Leo di sisiku. Aku semakin menyayanginya, begitupun dia. Sudah hampir tiga
bulan kami bersama, tak ada satupun hal yang membuat aku kecewa terhadapnya.
----------------------------------------------------------------------------------
Sore yang mencekam di sekolah, aku tinggal
sendiri diantara hujan. Papa masih di jalan 20 kilometer dari sini. Kejebak
macet pula. Seperti de javu, aku teringat akan sore itu. Sore dimana perasaanku
terhadap Leo berubah, sore dimana Leo membentakku dalam kekhawatirannya. Ah,
manis sekali kalau dikenang.
Tapi sore ini beda, Leo tak datang dengan
motor Kawasaki hitamnya. Yang kutau, kemarin sore Ia mengirimiku sebuah pesan
melalu blackberry messenger yang berisi bahwa Ia dan Mamanya akan berangkat ke
Medan, menghadiri rapat keluarga katanya. Tapi tadi pagi dia kembali mengirimi
aku pesan ‘bbm’ yang berisi ‘aku udah beli tiket jam 3. Kita bakal ketemu
secepatnya.’
Senja jam 6 sore. Aku berkali-kali mencoba
‘PING!!!’ Leo. Tapi tak ada tanggapan, aku telpon selalu tidak aktif. Dan jam 6
lewat 15 kak Dipo, kawan se-geng Leo meneleponku. Pasti Cuma mau bilang ‘Leo
bareng kami, kok. Udah gak usah cemas. Pake bikin status kehilangan segala.’
Dengan nada mengejeknya yang khas. Tapi tidak, dugaanku salah. “Cle, lo udah
dapet kabar atau buka TV belum?”
“Belum. Kenapa? Mau bilang ada episode
spongebob yang selama ini kakak cari?”
“Bukan. Mmm. Pesawat Leo kecelakaan karena
kabut dan hujan deras. Gua juga ga ngerti gimana detilnya. Tapi.. mmm.. Leo
sama mamanya udah masuk daftar korban meninggal. Kita ngumpul di rumah gua ya,
sekarang…” tit tit tit tit. Hujan, dalam kalut kau hadir, dalam cinta kau
pasti. Hujan, kini kau hapus semua.. Cintaku, kasihku...***
0 komentar:
Posting Komentar