Adalah Rina. Pembantu muda keluarga Hardoyo. Umurnya masih sangat dini saat
Ia menginjakkan kaki di sini. 14 tahun. Kali pertama Ia datang bukanlah sebagai
seorang pembantu. Melainkan sebagai anak pembantu.
Waktupun berlalu. Rina kemudian beranjak dewasa sementara Ibunya kian
menua. Dengan berbesar hati, Rina mempersilahkan Ibunya pulang ke kampung
karena tak sanggup lagi bekerja. Sebagai gantinya, Ia yang mengurusi segala
urusan rumah megah Pak Hardoyo.
Ibu dan Bapak Hardoyo yang sibuk, tak pernah menyempatkan waktu mereka
untuk mengurusi anak-anaknya, Rangga dan Lechi. Rangga yang sudah berumur 20
tahun memang tak perlu diurusi lagi. Tapi Lechi, umurnya baru 3 tahun bulan
kemarin. Sejak lahir, Ia sendiri meragukan siapa sebenarnya Ibunya, Bu Hardoyo
atau Kak Rina?
Kak Rina yang selalu ada untuk Lechi. Menemaninya bermain, menyuapinya
makan, mengajaknya tidur dan semuanya. Lechi sangat menyayangi kakak
pembantunya itu, begitupun sebaliknya.
Tahun-tahunpun berlalu. Hari ini adalah hari pertama bagi Lechi untuk duduk
di bangku Sekolah Dasar. Lechi begitu senang menyambut hari ini. Tapi ada yang
berbeda, Bu Hardoyo bilang, Rina harus pergi ke kampung sementara waktu. “Kak
Rina mau pergi ke kampung. Lechi diantar sama supir aja.” Hanya itu yang diucapkan
Bu Hardoyo. Lechi hanya mengangguk tak mengerti, lalu memeluk Rina sebelum Ia
berangkat sekolah.
Hari-hari Lechi di sekolah sangat menyenangkan. Ia mendapat banyak teman
dan Bu Guru bilang, nilai akademisnya cukup memuaskan. Tapi di rumah, Lechi kesepian.
Tak ada lagi Kak Rina. Memang setelah kepergian Rina, Bu Hardoyo lebih banyak
di rumah. Tapi Bu Hardoyo dan Rina tetaplah berbeda. Bu Hardoyo tak pernah
bermain bersama Lechi, mengajarinya membaca, atau sekedar menidurkannya. Lechi
rindu Kak Rina.
“Hmm. Semoga, Kak Rina pulang sebelum aku Ujian Semester. Biar ada yang
nemenin belajar.” Ucapnya saat malam tak dapat membuat matanya terpejam.
Dear diary...
Hari ini hari Sabtu. Itu artinya, dua hari lagi aku akan
Ujian Semester. Kak Rina belum pulang juga. Aku harap, Kak Rina pulang besok
atau paling lambat hari Senin.
Tapi Kak Rina tak pernah datang. Hingga kini, hingga Lechi sudah duduk di
bangku kelas dua SMP. Hingga Lechi tak perlu disuapi lagi. Kak Rina tak pernah
datang.
Lechi sedih akan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Ia sangat menyayangi
Rina, seperti kakak kandung sendiri. Tapi tak kunjung ada kabar dari Rina.
Rasanya Lechi sudah beratus kali menangis jika mengingat Kakak kesayangannya
itu. Rindunya tak pernah pudar dimakan waktu, melainkan terus menggebu. Lechi
tak tahu apa yang terjadi pada Rina sehingga Ia tak pernah datang kembali.
“Rina itu udah gak mau lagi kerja sama kita. Ya sudahlah, tak usah
dipikirkan. Lagian dia juga gak ada mikirin kamu, kok.” Ucap Bu Hardoyo ketus
di suatu malam.
Lechi tak bisa percaya sepenuhnya akan jawaban itu. Yang Ia tahu, Kak Rina
sayang padanya. Kak Rina peduli terhadapnya. Pasti ada alasan yang lebih nyata.
“Ma, Mama jujur aja, deh, sama Lechi. Sebenarnya kenapa Kak Rina gak
balik-balik?”
“Kamu ini, Lechi. Rina lagi, Rina lagi. Bosan Mama dengar namanya itu.”
“Ya, makanya Mama jawab yang serius. Biar Lechi ga nanya-nanya lagi.”
“Dia pacaran sama Rangga.”
“Apa?! Jadi selama ini? Tapi, memang apa salahnya kalau Kak Rangga sama Kak
Rina? Mereka kan sama-sama sudah besar.”
“Sudahlah Lechi. Mama juga sudah mengawinkan si Rina dengan saudagar di
kampungnya. Supaya Dia tidak mengganggu abang kamu lagi.”
“Tapi.. kenapa sih, Mama gak setuju aja Kak Rangga sama Kak Rina. Mereka
kan cocok, Kak Rina juga baik dan cantik.”
“Kamu itu masih kecil Lechi, kamu gak tau arti sebuah perbedaan. Rangga dan
Rina jelas berbeda. Mama mau bilang apa ke teman-teman Mama kalau anak Mama
nikah dengan pembantu?”
0 komentar:
Posting Komentar