Kamis, 11 Oktober 2012

SAUDARA KEMBAR

Diposting oleh Unknown di 23.29 0 komentar

SAUDARA KEMBAR
Hari ini adalah hari pertama bagi mereka duduk di bangku SMA. Refi dan Rafi beruntung karena dapat lulus ke sekolah ini. Sekolah yang mereka dambakan sejak dulu. Tapi Refi tetap saja tak bisa tersenyum. Ia muak harus satu sekolah lagi dengan Rafi, abangnya yang dua menit lebih tua darinya.
Refi takut kejadian-kejadian sebelumnya akan terulang lagi. Dimana Rafi dielu-elukan di sekolah. Dan dia hanya terlihat sebagai benalu yang numpang hidup. Numpang beken. Secara fisik, mereka terlihat nyaris sama. Tapi secara sifat, kemampuan berpikir, dan sebagainya, Refi jelas tak bisa bersaing dengan saudara kembarnya itu.
Sebenarnya Refi sangat berharap bisa berbeda sekolah dengan Rafi. Agar dia bisa kreatif sendiri, tanpa ada bayang-bayang Rafi yang terkenal. “Refi, kamu harus satu sekolah sama abang kamu. Kalau tidak, nanti siapa yang menjagamu di sekolah?” Ujar Mama beberapa hari silam. Saat mendengar itu, rasanya Refi ingin membanting sendok yang sedang Ia genggam. Refi muak dengan situasi seperti ini.
Sekarang Refi hanya berharap, bahwa Rafi takkan seterkenal dulu. Tidak sepintar dulu.
Tapi ternyata, seminggu kemudian, harapan itu mulai musnah. Hanya dalam hitungan hari, nama Rafi mulai dikenal di penjuru sekolah. Karena kemampuannya dalam bidang fisika. Karena kelincahannya dalam memainkan bola basket. Karena ketampanannya. Karena gaya berbusananya yang menarik. Dan lain-lain! Hal ini membuat Refi semakin membenci Rafi. Menurutnya, Rafi seakan tak memberikan Ia sedikitpun ruang untuk bisa setara dengannya.
“Lo kok nggak ngerjain pr mtk sih, tadi?” Tanya Rafi di suatu malam.
“Kenapa? Lo senang kan, gue dimarahin di depan kelas?” Tanya Refi balik.
“Lo kok sinis gitu, sih? Kalau lo gak ngerti pr nya, lo kan bisa bilang ke gue, biar kita kerjain bareng.”
Refi hanya mendengus kesal. Lalu beranjak menuju tempat tidur. Mematikan lampu, dan mencoba tidur secepatnya.
Hari ini agak berbeda. Refi bertemu dengan anak kelas sebelah yang bernama Stefani. Anaknya cantik dan ramah. Semenjak kehadiran Stefani, Refi tak terlalu menghiraukan kakaknya itu. Ia hanya terus berusaha mendekati Stefani. “Fan, besok kan libur. Lo mau gak, nemenin gue ke toko kaset?”
“Boleh, aku juga mau lihat-lihat. Kita ketemu di toko kasetnya aja ya, Ref?” Jawab Stefani. Mendengar jawaban tersebut, Refi langsung tersenyum lebar. Ia tak menyangka Stefani akan menerima ajakannya. Refi pikir, Stefani sama dengan cewek-cewek lain, yang jelas-jelas lebih tertarik pada Rafi.
Semakin hari, Refi semakin dekat dengan Stefani. Mereka sering ke Mall bersama, belajar bersama dan sebagainya. Refi tak mau cerita sedikitpun tentang Stefani pada Rafi. Refi takut, abangnya itu bisa saja merebut Stefani darinya. Dan Refi tentu tidak mau itu terjadi.
“Ref, sorry ya. Kayaknya kedekatan kita sampai di sini aja, deh. Sebenarnya… mmm.. Gue udah jadian sama Rafi tadi malam. Sorry banget, Ref.” Refi kaget bukan main. Ternyata selama ini Stefani mendekatinya hanya untuk mencari informasi tentang Rafi. Pantas saja Stef sering bertanya tentang Rafi. Refi sedih luar biasa. Ia merasa seperti ada bongkahan batu besar yang menimpuk dadanya. Ketakutannya selama ini ternyata benar. Rafi merebut Stefani darinya. Refi tidak bisa terus diam. Refi tak bisa terus menerima perlakuan Rafi. “Jadi lo jadian sama Stef? Lo gak tau apa kalau selama ini gue suka sama dia? Lo gak tau selama ini gue deket sama dia? Lo emang jahat, ya? Teganya lo rebut sisa kebahagiaan gue. Gue tau kok, lo emang lebih dari gue. Oh iya, lo baru diangkat jadi Kapten Basket, ya? Terus, gimana olimpiade Fisika lo? Lo emang hebat, Raf. Sementara gue gak lebih dari siswa terpinggir di sekolah..”
“Jadi Stefani itu gebetan lo? Ref, gue benar-benar minta maaf. Gue gak tau lo suka sama dia. Kalau lo mau, gue bisa putusin dia sekarang.”
“Gak perlu, gue udah terlanjur jijik sama dia.” Ucap Refi sambil berlalu. Lalu membanting pintu kamarnya dengan kasar. Sementara itu Rafi terduduk. Ia tak menyangka sama sekali bahwa Refi dekat dengan Stefani. Baik Refi maupun Stefani tak pernah bercerita tentang hubungan mereka padanya. Rafi tahu, sekarang Refi pasti sangat kecewa. Ia ingin memutuskan Stefani sekarang juga. Tapi Ia sadar, itu tak kan ada gunanya. Ia ingin melakukan apa saja yang dapat mengobati luka Refi. Tapi Ia tak tahu bagaimana caranya.
Lalu Rafi bangkit. Ia berjalan lesu menuju pintu kamar adiknya. Lalu mencoba membukanya. Tapi gagal, ruangan itu terkunci. Tak seperti biasanya. “Ref, maafin gue, ya? Gue tahu kok, gue salah. Gue bakal lakuin apa aja asal lo gak marah lagi sama gue.”
Dari dalam ruangan, Refi menutup telinganya dengan bantal. Lalu diam dan berpikir. Lakuin apa aja? Ulangnya dalam hati. Ia langsung tersenyum penuh arti. Dan dengan cepat membuka pintu kamarnya. “Gue mau kita tukeran. Gue mau satu minggu ini gue jadi lo. Dan lo jadi gue.”
Rafi sontak kaget dengan syarat yang diajukan Refi. Ia tak membayangkan bagaimana kalau itu benar terjadi. Tapi tak ada jalan lain. Ia sudah berjanji melakukan apapun asal Refi memaafkannya. Ia harus setuju.
Dan jadilah hari ini Rafi duduk di kursi Refi. Memakai baju Refi. Sementara Refi sangat senang dengan keadaan ini. Dimana saat pagi Ia disambut senyuman cewek-cewek. Dan tentu saja Stefani. Dimana Bu Ros yang selalu galak padanya, kini tersenyum dan mengelu-elukan dirinya. Satu minggu bukanlah waktu yang panjang. Refi akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Nyatanya Refi benar-benar kejam. Ia melakukan apapun yang sangat bertolakbelakang dengan yang dilakukan Rafi selama ini. Refi nekat tidak membuat pr fisika. Mengerjai teman sekelasnya. Mendekati perempuan lain hingga membuat Stefani marah. Dan bermain asal-asalan saat latihan basket.
Ternyata waktu seminggu adalah waktu yang cukup bagi Refi untuk membuat semua orang membenci Rafi. Dan sebaliknya, Rafi yang bersikap manis malah membuat orang-orang menyukai Refi. Memang teman-temannya merasa ada yang aneh. Tapi mereka tak pernah berpikir sekalipun bahwa Rafi dan Refi itu bertukar posisi.
“Gak terasa, hari ini hari terakhir gue jadi lo, ya?” Tanya Refi dengan senyum puas di suatu sore.
“Iya, hari terakhir lo bikin image gue jadi kacau di mata orang. Tapi gak apa-apa. Gue rela kok. Gue bahkan rela berpura-pura bodoh selamanya asal kita nggak bertengkar. Gue rela.” Rafi mengucapkan itu sambil menunduk. Ia sadar, pasti akan sulit untuk melakukan itu. Tapi sesulit apapun, Rafi akan tetap melakukannya demi Refi.



Jumat, 05 Oktober 2012

Perbedaan

Diposting oleh Unknown di 23.20 0 komentar

Adalah Rina. Pembantu muda keluarga Hardoyo. Umurnya masih sangat dini saat Ia menginjakkan kaki di sini. 14 tahun. Kali pertama Ia datang bukanlah sebagai seorang pembantu. Melainkan sebagai anak pembantu.
Waktupun berlalu. Rina kemudian beranjak dewasa sementara Ibunya kian menua. Dengan berbesar hati, Rina mempersilahkan Ibunya pulang ke kampung karena tak sanggup lagi bekerja. Sebagai gantinya, Ia yang mengurusi segala urusan rumah megah Pak Hardoyo.
Ibu dan Bapak Hardoyo yang sibuk, tak pernah menyempatkan waktu mereka untuk mengurusi anak-anaknya, Rangga dan Lechi. Rangga yang sudah berumur 20 tahun memang tak perlu diurusi lagi. Tapi Lechi, umurnya baru 3 tahun bulan kemarin. Sejak lahir, Ia sendiri meragukan siapa sebenarnya Ibunya, Bu Hardoyo atau Kak Rina?
Kak Rina yang selalu ada untuk Lechi. Menemaninya bermain, menyuapinya makan, mengajaknya tidur dan semuanya. Lechi sangat menyayangi kakak pembantunya itu, begitupun sebaliknya.
Tahun-tahunpun berlalu. Hari ini adalah hari pertama bagi Lechi untuk duduk di bangku Sekolah Dasar. Lechi begitu senang menyambut hari ini. Tapi ada yang berbeda, Bu Hardoyo bilang, Rina harus pergi ke kampung sementara waktu. “Kak Rina mau pergi ke kampung. Lechi diantar sama supir aja.” Hanya itu yang diucapkan Bu Hardoyo. Lechi hanya mengangguk tak mengerti, lalu memeluk Rina sebelum Ia berangkat sekolah.
Hari-hari Lechi di sekolah sangat menyenangkan. Ia mendapat banyak teman dan Bu Guru bilang, nilai akademisnya cukup memuaskan. Tapi di rumah, Lechi kesepian. Tak ada lagi Kak Rina. Memang setelah kepergian Rina, Bu Hardoyo lebih banyak di rumah. Tapi Bu Hardoyo dan Rina tetaplah berbeda. Bu Hardoyo tak pernah bermain bersama Lechi, mengajarinya membaca, atau sekedar menidurkannya. Lechi rindu Kak Rina.
“Hmm. Semoga, Kak Rina pulang sebelum aku Ujian Semester. Biar ada yang nemenin belajar.” Ucapnya saat malam tak dapat membuat matanya terpejam.
Dear diary...
Hari ini hari Sabtu. Itu artinya, dua hari lagi aku akan Ujian Semester. Kak Rina belum pulang juga. Aku harap, Kak Rina pulang besok atau paling lambat hari Senin.
Tapi Kak Rina tak pernah datang. Hingga kini, hingga Lechi sudah duduk di bangku kelas dua SMP. Hingga Lechi tak perlu disuapi lagi. Kak Rina tak pernah datang.
Lechi sedih akan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Ia sangat menyayangi Rina, seperti kakak kandung sendiri. Tapi tak kunjung ada kabar dari Rina. Rasanya Lechi sudah beratus kali menangis jika mengingat Kakak kesayangannya itu. Rindunya tak pernah pudar dimakan waktu, melainkan terus menggebu. Lechi tak tahu apa yang terjadi pada Rina sehingga Ia tak pernah datang kembali.
“Rina itu udah gak mau lagi kerja sama kita. Ya sudahlah, tak usah dipikirkan. Lagian dia juga gak ada mikirin kamu, kok.” Ucap Bu Hardoyo ketus di suatu malam.
Lechi tak bisa percaya sepenuhnya akan jawaban itu. Yang Ia tahu, Kak Rina sayang padanya. Kak Rina peduli terhadapnya. Pasti ada alasan yang lebih nyata.
“Ma, Mama jujur aja, deh, sama Lechi. Sebenarnya kenapa Kak Rina gak balik-balik?”
“Kamu ini, Lechi. Rina lagi, Rina lagi. Bosan Mama dengar namanya itu.”
“Ya, makanya Mama jawab yang serius. Biar Lechi ga nanya-nanya lagi.”
“Dia pacaran sama Rangga.”
“Apa?! Jadi selama ini? Tapi, memang apa salahnya kalau Kak Rangga sama Kak Rina? Mereka kan sama-sama sudah besar.”
“Sudahlah Lechi. Mama juga sudah mengawinkan si Rina dengan saudagar di kampungnya. Supaya Dia tidak mengganggu abang kamu lagi.”
“Tapi.. kenapa sih, Mama gak setuju aja Kak Rangga sama Kak Rina. Mereka kan cocok, Kak Rina juga baik dan cantik.”
“Kamu itu masih kecil Lechi, kamu gak tau arti sebuah perbedaan. Rangga dan Rina jelas berbeda. Mama mau bilang apa ke teman-teman Mama kalau anak Mama nikah dengan pembantu?”

Siti

Diposting oleh Unknown di 23.16 0 komentar

SITI
Dialah Siti. Siswi pindahan asal Yogyakarta. Anaknya baik, ramah, senyumnya manis, kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus, dan tentu saja pintar. Memang Ia sedikit medok, tapi itu tak memengaruhi kemampuannya dalam berbahasa inggris. Ia nyaris sempurna, kalau saja Ia tidak… ‘KAMSEUPAY’! Kampung Sekali Udik Payah. Ya, memang seperti itulah Dia. Kampungan. Udik. Alasan ini jugalah yang membuat teman sekelasnya memilih menjauhinya.
Sebenarnya Siti senang bergaul, belajar bersama atau melakukan hal lain yang menyenangkan bersama seorang teman. Ya, seorang teman. Di Jakarta, Ia tak memiliki seorang teman. Padahal dulu, saat Ia masih di Yogya, jangankan seorang teman, seluruh anak di sekolah ingin berteman dengannya. Jauh berbeda dengan sekarang. Mereka tak mau berteman dengan Siti karena satu hal yang sulit Siti mengerti. “Siti tuh, ‘kamseupay’. Udik. Amit-amit temenan dengan orang udik. Entar kebawa udik lagi, hahaha.” Itu yang pernah Siti dengar saat minggu pertama Ia masuk sekolah.
Siti bingung. Bahkan kadang ingin menyerah. Rasanya Ia sangat menyesal mengikuti beberapa tes di Yogya sampai Ia mendapatkan beasiswa di sekolah ini. Sekolah Internasional. Memiliki segudang prestasi akademik maupun non-akademik. Sekolah elite. Dimana hampir seluruh siswanya mengendarai mobil sendiri ke sekolah. Seharusnya Siti senang, Ia bisa bergabung dengan anak-anak pintar dan kaya. Tapi masalahnya adalah, Siti dan mereka itu ‘berbeda’.
Hari ini Siti berangkat ke sekolah. Lagi. Batinnya dalam hati. Yang membuat Ia tetap bertahan di sekolah ini hanya Ibunya. Yang selalu menyemangatinya. Menopang Siti yang lemah. Entah lemah dalam artian apa.
“Hai Siti…!” Teriak Monic ketika Siti sampai di depan pintu kelas. Monic masih senyam-senyum dengan sebuah kipas berbulu di tangan.
“Hai Monic. Ada apa?” Sungguh aneh dan tak biasa. Monic, seorang ketua Gank The Lips—Gank yang terkenal seantero sekolah karena kecantikan dan keangkuhan anggotanya—kini menyapanya dengan sangat ceria.
“Ini.” Ujar Monic sembari menyodorkan sebuah kartu mungil berwarna ungu dengan pita pink di atasnya. “Dua hari lagi aku ulangtahun. So, aku ngundang kamu ke birthday party aku. Datang, ya.” Monic benar-benar berbeda pagi ini. Matanya menyiratkan sebuah rasa ketulusan seorang teman. Mata Siti langsung melebar saat menerima undangan itu. Betul-betul undangan yang sangat spesial. Ia tak menyangka akan diundang oleh seorang dari sekolah ini, apa lagi dari Monic.
Siti meletakkan tasnya di meja. Lalu duduk dan memerhatikan undangan cantik yang masih Ia pegang. Jam 7 malam di rumah Monic, Kelapa Gading. Ia pasti datang.
Hari ini Siti sangat senang. Memang teman sekelasnya masih tetap sama, menjauhinya. Tapi Siti percaya, kalau Monic saja sudah mau berteman dengannya, kata ‘udik’ itu pasti akan hilang.  ***
“Kamu mau kemana, Siti?” Tanya Ibu saat Siti sedang memasukkan dompet ke dalam tas kecil berwarna hitam.
“Siti mau ke mall, buk. Besok teman Siti ada yang ulangtahun, Siti mau beli kado buat dia.”
“Emang kamu punya uang?”
Siti tak menjawab. Ia hanya menunjuk sebuah celengan ayam yang kini sudah terbelah. Ia mengingkari janjinya dulu. Bahwa uang celengan itu seharusnya digunakan untuk mendaftar ke Universitas yang Ia inginkan. Tapi entah mengapa, Siti merasa itu tidak perlu.
Ibu hanya tersenyum simpul. Lalu membiarkan Siti pergi dengan Trans Metro Jakarta.
Sesampainya di Mall, Siti membeli sebuah perangkat untuk merias kuku. Ia membelinya karena Monic memang gemar merias kukunya. Setelah keluar dari counter tersebut. Siti melihat isi dompetnya. Masih banyak uang di sana. Siti lalu berinisiatif membeli beberapa hadiah lagi untuk teman yang lain.
Akhirnya Siti terduduk di kursi ruang tamu. Kakinya pegal setelah beberapa jam mengitari Mall. Tangannya pun pegal membawa semua hadiah untuk temannya itu. Teman satu kelas! Dompet Siti kini hanya tersisa uang 10 ribu rupiah. Tapi Siti senang, Ia dapat membelikan hadiah untuk semua temannya. Walaupun temannya itu tak pernah menganggapnya ada.
“Rok buat Nadya yang feminine. Jaket untuk Fira yang suka manjat gunung. Kaset drama Korea untuk Karin yang Kpoppers. Coklat untuk Cika yang suka makan…” Ucap Siti sambil memilah-milah. Ibunya hanya dapat diam dan merasa iba terhadap Siti. Semoga dia diberi kekuatan Tuhan. Gumam Ibu dalam hati.
Malam itupun tiba, Siti sudah siap dengan kado dan dandanannya. Ia meluncur menuju kawasan Kelapa Gading dengan ojek. Wajahnya sungguh berbinar.
“Monic, ini kado buat kamu. Selamat ulangtahun ya, Monic.” Siti langsung menyodorkan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi kepada Monic.
Tempatnya sangat indah. Monic mengambil set di sekitar kolam renang rumahnya. Dihiasi lampu kerlap-kerlip dan alunan musik yang merdu, tempat ini sungguh seperti yang ada di film-film.
“Ooh, makasih Siti. Ini mengharukan banget.” Kata Monic masih dengan muka angkuhnya. Tak disangka-sangka. Monic langsung mengoyak bungkus kado tersebut dengan kasar. Matanya langsung terbelalak melihat isinya. Siti kaget dan bingung terhadap apa yang dilakukan Monic. Dengan semua mata telah tertuju kepadanya, Monic mengacung-acungkan kotak perangkat perawatan kuku itu. “Teman-teman! Liat deh, Siti bawa apa. Dia bawa seperangkat perawatan kuku murahan yang seumur hidup gak akan pernah kita pake.” Teriak Monic dengan senyumnya yang sangat puas. Siti tak tahu harus berbuat apa, Ia tak menyangka akan jadi begini.
Orang-orang kemudian berbisik-bisik, lalu memandang sinis kepada Siti. Ada yang tertawa puas melihatnya. Siti semakin terpojok. Belum sempat Ia mencerna semua yang terjadi malam ini, Monic sudah meneriakinya lagi. “Lo kira Gue serius ngundang lo ke sini? Lo pikir kita semua di sini selevel gitu, sama lo? Lo nyadar gak sih, kalau lo itu gak lebih dari seorang siswa miskin yang KAM-SE-U-PAY!” Maki Monic kejam. Siti tak bisa lagi membendung airmatanya yang sejak tadi sudah berkumpul di pelupuk mata. Siti berlari sambil terisak. Lalu menghilang di ujung pintu keluar diiringi riuhnya tawa kemenangan dari para undangan lain.
Siti menangis sejadi-jadinya setelah sampai di depan gerbang rumah megah Monic. Dadanya seketika sesak. Kemudian tanpa Ia inginkan, cairan merah kental keluar dari mulutnya. Siti kalut. Tak tahu arah jalan pulang. Jalanan sudah sepi. Siti hanya berjalan sambil sesekali terbatuk dan terisak. Entah kemana. Siti terus berjalan dan berjalan. sampai Ia berhenti karena merasa sakit yang sangat dahsyat pada dadanya, lalu terpuruk di trotoar.***
Dua hari setelah malam itu. Siti tak kunjung muncul di sekolah. Kemarin Bu Neng bilang, Siti dirawat di UGD karena penyakit livernya kambuh. Penyakit liver! Mereka sekelas tak pernah tahu bahwa Siti mengidap suatu penyakit, bahkan penyakit yang parah. Siti di sekolah selalu tersenyum, meski tak ada yang tersenyum padanya. Siti selalu aktif di setiap pelajaran. Selalu mengangkat tangan saat ada soal yang diberikan. Selalu maju ke depan untuk membacakan sebuah puisi. Selalu menjadi yang tercepat saat menghitung soal Matematika. Menjadi anak emas dalam pelajaran Fisika. Dan segalanya. Siti tak pernah tampak lemah, kecuali saat Ia sering permisi pada pelajaran olahraga. Ia selalu pucat kalau sudah berlari. Tapi temannya sekelas tak pernah memusingkan hal itu. Lebih tepatnya, mereka tak pernah memusingkan apapun yang berkaitan dengan Siti.
Monic merasa bersalah. Ia sadar, pasti malam itu yang membuat Siti kini terbaring di UGD. Teman-teman sekelaspun ikut menyalahkannya. Mereka akhirnya kasihan terhadap Siti dan memutuskan untuk pergi menjenguknya besok.
Setelah menyusuri beberapa lorong sambil mencari nomor kamar yang sudah diberikan resepsionis, Monic masih cemas dan pucat. Takut melihat keadaan Siti karena dirinya. Sesampainya di sebuah pintu kamar dengan nomor yang cocok, Monic semakin pucat. Seorang dokter laki-laki berumur sekitar empatpuluhan keluar dari pintu tersebut. “Siapa kalian?” katanya. Monic dan teman-temannya hanya diam. Lalu terdengar suara tangis yang begitu kuat dari dalam ruangan. Monic tak bisa menunggu lagi. Didorongnya dokter tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Kain putih panjang menyelimuti tubuh yang terbujur kaku di atas ranjang. Siti tak terselamatkan. Ia mengalami banyak pendarahan dan penyakitnya sudah terlalu akut. Ia pergi. Pergi dan tak kembali.
Suasana yang amat menyesakkan dada. Namun ada yang aneh dari kamar tersebut. Di pojok sebelah meja ada banyak bungkusan kado bermacam warna. Fira mendekati bungkusan tersebut dalam diam, lalu terisak saat membaca tulisan di salah satu kotak kado berwarna biru. ‘Untuk Fira. Fir, ini jaket untuk kamu. Dipakai ya, hawa gunung itu dingin.’


Ketika Hujan Menghapus Semua...

Diposting oleh Unknown di 23.13 0 komentar

Siang  beranjak  sore. Bel SMA  Sebangsa  berbunyi  memutuskan  pelajaran  di  hari  ini.   Semua  murid  tak  perduli,  apa  guru  sudah  selesai  berbicara  atau  belum.  Saat  bel  pulang,    yang  biasa  kami  lakukan  adalah  menghirup  nafas  lega.  Lega  sekali.  Akhirnya  segala  kepenatan  berakhir.
Lalu  tanpa  aba-aba  dari  sang  guru, kami langsung saja mengepak semua buku dan alat tulis lain yang berserakan di atas meja. Kertas coret-coretan hasil imajinasi yang begitu jenuh mendengar penjelasan guru dicampakkan begitu saja. Padahal di dinding kelas, di pojok papan tulis, di setiap tembok dan sudut sekolah, juga di wc-wc sekolah sudah tertempel jelas satu atau dua kertas yang bertuliskan “buanglah sampah pada tempatnya”, “kebersihan sebagian dari iman” atau “keep your school clean” dan lain sebagainya. Kami sebagai murid, hanya bersikap acuh tak acuh.
Aku dan Kiran berjalan meninggalkan pintu kelas. Kami sedikit keberatan dengan bawaan kami. Buku-buku yang tebal ini membuatku sangat malas untuk berjalan. Kami berdua mulai berjalan sampai langkah kami terhenti karena ucapan Kiran.  “Ya ampun Cle, sumpah aku lupa! Aku ‘kan harus piket hari ini. Mm aku piket dulu, ya? Kamu ga papa ‘kan jalan sendiri?” ujar Kiran yang sedikit panik. Aku hanya bisa mengangguk pasrah menyutujuinya.
Aku kemudian berjalan lesu membawa semua barangku ini. Tiba-tiba ponsel yang kutaruh disaku bergetar. Kulepaskan beberapa barang di tangan, kuraih ponselku. Di layarnya ada tulisan ‘Mama’, segera kuangkat. “halo, Ma?”
 “Cle, Mama ada urusan mendadak nih, Papa juga masih di kantor, ada rapat. Kamu bisa nggak pulang sendiri?”
“Pulang sendiri? Pulang sendiri gimana?” Mana bisa aku pulang sendiri. Maksudnya jalan kaki? Gila aja, dari sini ke rumah itu lebih 15 km tauuu. Terus naik bis? Mampus! Aku gak pengalaman banget naik yang gituan. Selama ini aku diantar jemput sama Mama atau Papa. Aku emang beda dengan Trila—kakakku. Ia sering naik Bus Transmetro dari sekolahnya ke rumah. Dia sudah biasa. Aku ini sebenarnya cuma anak ingusan yang masih di ketiak Ibunya. Ga sadar umur orang bilang. Mengingat aku sudah SMA!
“Maksud Mama apa sih? Emang urusannya sampai jam berapa?” tanyaku kesal.
“Ya nggak tau, sorry deh, Cle. Ini memang mendadak. Pokoknya kamu usahain aja deh ya, gimana kamu pulang. Atau naik taksi?”
“Taksi? Ongkosnya? Cleo ga ada uang.” Jawabku masih ketus.
“Ntar sampe rumah minjem uang Bi Yul aja dulu. Ya? Mama buru-buru nih.” Tit-tit-tit-tit. Aaah! Gimana dong? Gini nih, kalau punya orangtua yang workaholic kedua-duanya. Selalu menomor satukan pekerjaan, dan anaknya? Terlantar gak tau arah di sini.
Karena keragu-raguan, aku memutar arah. Bermaksud kembali ke kelas. Mencari Kiran, aku harap dia punya solusi yang tepat.
Dari ambang pintu kelas aku melihat Kiran masih sibuk menyapu sampah yang ada dimana-mana. Kasian juga ngeliatnya.
“Woi! Apaan liat-liat?”
“Eh, sorry mbak office girl.”
“Kampret. Kok gak jadi balik?”
“Tau nih orangtua! Sibuk sama kerjaannya aja. Aku gak tau pulang sama siapa.”
“Gak ada yang bisa jemput?” Tanya Kiran. Aku menggeleng kesal.
“Mmm.” Iih, si Kiran mah, kebanyakan ‘mmm’ nya. Udah bingung gini.
“Gini aja, kamu bantuin aku piket dulu, terus soal kepulangan kamu ke rumah kita pikirin nanti.” Tandasnya kejam. Aku jadi semakin kacau dibuatnya. Bawaan banyak lagi. Uuh, gak jumpa solusi juga ketemu sama Kiran! “Kamu pasti lagi menggerutu dalam hati, kalau aku sama sekali gak ngasih solusi ‘kan? Dasar sok uzon!” Aku tidak menyahut. Hanya bengong memikirkan bagaimana nasibku. Rumahku jaraknya lumayan jauh, jauh malah.  “Ntar aku antar.”
“Beneran Ran?”
“Iyaaa. Udah cepat, bantuin dulu.”
Setelah membersihkan seisi kelas dan membuat kelas menjadi kinclong, aku dan Kiran berjalan menuruni tangga dan bergegas menuju parkiran, berharap kalau Kiran udah dijemput sama supirnya. Terus dia ngantarin aku dengan selamat nyampe rumah, gratis dan aku gak perlu keluarin tenaga. Sip sip. Tuhan emang maha mendengar. “Eh, itu mobil aku. Yuk!” ucap Kiran sambil menunjuk sebuah mobil sedan mewah berwarna merah marun. “Eh, Ran, kamu yakin itu mobil kamu? Aku gak pernah liat kamu pake mobil ini sebelumnya.”
“Yakin kok. Mobil ini emang jarang dipake. Soalnya yang biasa makai Mama aku, Mama aku kan masih di Aussy.” Aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kiran. Bodo amat yang biasa makai Mamanya atau Neneknya, yang penting dapet tumpangan gratis! Hehe.
Kiran membuka pintu mobil, aku menyusul dari belakang.
“Surprise!”
“Mama?”
“Iya sayang, ini Mama. Kamu pasti kaget ya, kenapa Mama pulang gak ngasih kamu kabar? Entar Mama ceritain deh. Sekarang Mama mau ngajak kamu shopping dulu, kita ‘kan udah lama gak shopping bareng.”
“Aduuh, sorry banget nih, Cle. Aku beneran gak tau kalau Mama aku yang bakal jemput. Mama aku malah ngajak shopping lagi. Jadi aku ga bisa nganterin kamu. Maaf ya, Cle. Maaf bangeet.”
Kampret lo, Ran. Tau gini aku udah nyari tumpangan lain. Malah udah capek-capek bantuin dia piket. “Iya deh, ga apa-apa.”
“Ya udah, aku duluan yaa. Daaa.”
Iiih. Sekarang gimana dong? Udah senang-senang dapat tumpangan malah gini jadinya. Apa aku harus balik ke rencana awal? Nelpon taksi? Huuft. Kayaknya itu satu-satunya cara. Aku langsung mengambil ponsel di saku rokku. Kutekan salah satu nomor taksi argo. Untung yang aku ingat yang paling murah. Hehe, ketauan kerenya. “Maaf, sisa pulsa yang anda miliki…”
“What??!! Dalam keadaan genting gini pulsa aku bisa habis?! Mampus! Tuhaaan, kok ngeri banget sih, cobaannya. Malah sekolah udah sepi gini.” Aku mengeluh sambil melihat deretan kursi tunggu sekolah yang kini mulai sepi. Hanya ada dua orang adik kelas dan satu kakak kelas. Duuuh, gimana ya? Batinku dalam hati. Dengan raut wajah kebingungan, aku beringsut-ingsut dengan semua bawaanku menuju kursi tunggu. Ada juga pikiranku untuk meminjam handphone adik kelas, tapi… gengsi bo’, gengsi. Hari gini ada kakak kelas yang minjem hape sama juniornya? Kalau iya, pasti tu adek kelas yang udah berjasa minjemin hape ke seniornya bakal bangga banget dan besok, junior yang pada sengak itu pasti udah ngomongin aku dan gak bakal naruh rasa hormat lagi sama aku. Enggak, enggak. Walau gimanapun, wibawa harus tetap dijaga. Hmm. Atau minjem hape kakak kelas, iya bener! Tapiii, haduuh, kenapa sih, hari ini kakak kelas yang lama dijemput malah yang satu ini, kak Vero! Jelas aja aku nggak berani. Dia itu wakil Ketua Osis yang amat disegani dan ditakuti para juniornya, termasuk aku. Jelas nggak mungkinlah rencana yang satu ini. Hoaaam. Jadi yang mungkin apa nih? Berpikir Cleo, berpikir.
Fiuuh. Setelah lama berpikir, keputusanku adalah: menunggu taksi lewat di depan sekolah.
Tak lama hujanpun datang dengan derasnya, petir, guruh, semuanya yang jelek-jelek ikutan datang. Dan sampai sekarang, satu jam setelah aku berhenti berpikir, taksi tak kunjung nongol di jalan depan sekolah. Aku semakin pasrah dan gelisah, gak ada telpon dari Mama atau Papa. Orang-orang yang tersisa tadipun sudah pergi semua. Aku? Ya sendiri. Huff. Mau nangis rasanya, tapi aku coba pasrah.
Seketika lamunanku terhenti oleh suara gaduh dari ujung tangga. Kulirik sekilas, dan disana ada… Kak Leo! Mampus! Leo and The Geng! Ini nama yang paling aku benci seumur hidup, Leo orangnya. Dia yang menghukum aku menyuci baju basketnya di WC sekolah karena aku telat waktu MOS. Emang udah hampir dua tahun berlalu, tapi sejak waktu itu, aku selalu berusaha buat menghindar dari dia. Selain karena aku benci, aku juga takut sama dia.
Druuum.. druum.. “Duluan ya, Bos!” teriak salah seorang kancut-kancutnya Leo. Sekarang tinggal Leo sendiri di parkiran, dan aku sendiri di kursi tunggu. Jaraknya, cuma 10 meter. Aku lihat Leo sedang mengambil helm dari bagasi motornya. Lalu memakainya dan langsung naik ke motor Kawasaki hitam—yang asli, keren abiis.
Druuum.. druum.. Ia melesat cepat, aku pura-pura gak liat. Tapi yang ada, dia berhenti tepat di depanku. Haduuh.. mati aku! Pasti dia mau ngetawain aku ‘kan? Huuh!
“Belum dijemput?”
“Hah?”
“Belum dijemput?” kali ini dengan intonasi yang berbeda. Aku sontak kaget dengan pertanyaannya. “Bukan belum, tapi enggak.”
Kemudian Ia kelihatannya berpikir sejenak, aku masih dag-dig-dug di sini. “Ya udah, naik.”
“Apa?!”
“Lo budeg ya? Naik gua bilang!” Gimana, ya? Aku sih, bersyukur banget ada yang bersedia nganterin aku pulang. Tapi ini lo, orangnya, mmm… ntar aku diapa-apain lagi.
“Gua gak minat kok, sama lo. Udah naik aja.” Kampret ni orang, siapa lagi yang bilang dia minat sama aku. Hmm. Kayaknya ini satu-satunya jalan, kalau nggak, aku bisa mati kedinginan di sini sampe besok.
Aku pun berdiri dan mengambil semua barang-barangku yang sedari tadi kutaruh di kursi di sebelahku. Dan dengan hati-hati menghampiri sosok tinggi yang ganteng dan menyebalkan ini.
“Mmm. Tapi rumah saya jauh kak. Hari juga hujan.”
“Yang bilang gua mau nganter lo sampe rumah siapa? Udah, naik aja. Gua anter sampe halte.” Buseet. Dasar songong ni orang, kirain.
Akhirnya, aku menemukan diriku sudah berada di goncengan motor milik Leo. Dia kayaknya sangat gak perduli dengan nasibku dan bawaanku yang semakin basah di bangku belakang. Sesampainya di depan halte, Leo menghentikan sepeda motornya. Ia lalu melirik halte yang sesak karena orang yang berteduh. “Haltenya sesak gitu, yakin lo mau turun?”
 “Mmm..”
“Rumah lo dimana?”
“Sebelum Bogor.”
“Pake nih.” Leo menyodorkan jaket hitam yang tadi Ia kenakan. Dengan tidak banyak omong, langsung saja kupakai jaket itu. Gantian, biar sekarang dia yang kuyup.
Akhirnya, aku sampai di rumah dengan selamat walau sedikit meriang. Tapi aku bersyukur, dengan keselamatanku ini. Gak tau deh, seandainya tadi Leo gak datang. Batinku sambil tersenyum.
Sejak hari itu, rasa benciku terhadap Leo sontak berubah. Aku jadi kagum padanya. Kagum? Tidak sekedar kagum, aku mulai jatuh hati padanya. Dan perasaanku ini tidak bertepuk sebelah tangan. Seminggu setelah hari itu, Leo menyatakan perasaannya padaku di kantin sekolah. Aku tentu tidak mungkin menolaknya, karena yang pertama, aku memang suka padanya, dan yang kedua, tak mungkin junior berani menolak senior.
Dan jadilah hari-hariku di sekolah makin aduhay. Namaku mulai dikenal di seantero sekolah, padahal sebelumnya Aku bukanlah siswa yang dikenal, karena muka pas-pasan, otak pas-pasan dan materil yang juga pas-pasan. Tapi menurut Leo, cinta bukanlah hal yang dipandang dari fisik, otak, maupun kekayaan. Cinta adalah sesuatu yang datang dari hati.
Dan aku, masih berbunga-bunga dengan adanya Leo di sisiku. Aku semakin menyayanginya, begitupun dia. Sudah hampir tiga bulan kami bersama, tak ada satupun hal yang membuat aku kecewa terhadapnya.
----------------------------------------------------------------------------------
Sore yang mencekam di sekolah, aku tinggal sendiri diantara hujan. Papa masih di jalan 20 kilometer dari sini. Kejebak macet pula. Seperti de javu, aku teringat akan sore itu. Sore dimana perasaanku terhadap Leo berubah, sore dimana Leo membentakku dalam kekhawatirannya. Ah, manis sekali kalau dikenang.
Tapi sore ini beda, Leo tak datang dengan motor Kawasaki hitamnya. Yang kutau, kemarin sore Ia mengirimiku sebuah pesan melalu blackberry messenger yang berisi bahwa Ia dan Mamanya akan berangkat ke Medan, menghadiri rapat keluarga katanya. Tapi tadi pagi dia kembali mengirimi aku pesan ‘bbm’ yang berisi ‘aku udah beli tiket jam 3. Kita bakal ketemu secepatnya.’
Senja jam 6 sore. Aku berkali-kali mencoba ‘PING!!!’ Leo. Tapi tak ada tanggapan, aku telpon selalu tidak aktif. Dan jam 6 lewat 15 kak Dipo, kawan se-geng Leo meneleponku. Pasti Cuma mau bilang ‘Leo bareng kami, kok. Udah gak usah cemas. Pake bikin status kehilangan segala.’ Dengan nada mengejeknya yang khas. Tapi tidak, dugaanku salah. “Cle, lo udah dapet kabar atau buka TV belum?”
“Belum. Kenapa? Mau bilang ada episode spongebob yang selama ini kakak cari?”
“Bukan. Mmm. Pesawat Leo kecelakaan karena kabut dan hujan deras. Gua juga ga ngerti gimana detilnya. Tapi.. mmm.. Leo sama mamanya udah masuk daftar korban meninggal. Kita ngumpul di rumah gua ya, sekarang…” tit tit tit tit. Hujan, dalam kalut kau hadir, dalam cinta kau pasti. Hujan, kini kau hapus semua.. Cintaku, kasihku...***


Sesal

Diposting oleh Unknown di 22.38 0 komentar
Diam...
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan
Kenyataan bahwa aku pernah mencintamu
Ah, lupakanlah..

Aku tak berkhianat..
Begitu juga kau
Tapi apa namanya ini?
Jenuh?
Bosan?
Muak?

Terkadang aku lupa caramu tersenyum
Terkadang aku bingung bagaimana cara mencintaimu
Mungkin kau begitu pasif?
Atau aku yang begitu naif?

Pergilah...
Aku tak perduli...
Tinggalkanlah...
Aku tak sakit hati...

Agaknya sesuatu yang dulu kuidamkan darimu telah hilang
Kata-katamu semakin terdengar hambar di telinga

Tapi aku mati..
Aku tak sanggup berdiri..
Ketika kulepaskan dirimu..
Dan kau memang pergi..

Malam di Bus Kota

Diposting oleh Unknown di 22.29 0 komentar
Malam merambat cepat
Kulangkahkan kaki yang melambat
Kusandarkan tubuh di kursi bus ini
Sepi itu datang lagi

Aku lelah...
Diam dan ingin terlelap saja
Ketika rem bekerja di perempatan jalan
Seorang pemuda melompat masuk tiba-tiba

Tubuhnya setengah kuyup...
Kadang sedikit menggigil juga
Pengamen itu terus bergerak
Memainkan jari di antara senar-senar gitarnya

Pendar-pendar lampu ibukota
Gerimis-gerimis kecil di balik jendela
Sayup-sayup deru kendaraan
Genjreng-genjreng kecil pengamen kedinginan

Seluruh duniaku serasa berhenti
Ketika kuingat ada sesuatu yang menanti

Tak ada yang salah dengan kota ini
Ya.. tak ada yang salah
Namun terkadang rindu tak perlu alasan
Aku ingin pulang...
 

Daily Life Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei