Jumat, 05 Oktober 2012

Siti

Diposting oleh Unknown di 23.16

SITI
Dialah Siti. Siswi pindahan asal Yogyakarta. Anaknya baik, ramah, senyumnya manis, kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus, dan tentu saja pintar. Memang Ia sedikit medok, tapi itu tak memengaruhi kemampuannya dalam berbahasa inggris. Ia nyaris sempurna, kalau saja Ia tidak… ‘KAMSEUPAY’! Kampung Sekali Udik Payah. Ya, memang seperti itulah Dia. Kampungan. Udik. Alasan ini jugalah yang membuat teman sekelasnya memilih menjauhinya.
Sebenarnya Siti senang bergaul, belajar bersama atau melakukan hal lain yang menyenangkan bersama seorang teman. Ya, seorang teman. Di Jakarta, Ia tak memiliki seorang teman. Padahal dulu, saat Ia masih di Yogya, jangankan seorang teman, seluruh anak di sekolah ingin berteman dengannya. Jauh berbeda dengan sekarang. Mereka tak mau berteman dengan Siti karena satu hal yang sulit Siti mengerti. “Siti tuh, ‘kamseupay’. Udik. Amit-amit temenan dengan orang udik. Entar kebawa udik lagi, hahaha.” Itu yang pernah Siti dengar saat minggu pertama Ia masuk sekolah.
Siti bingung. Bahkan kadang ingin menyerah. Rasanya Ia sangat menyesal mengikuti beberapa tes di Yogya sampai Ia mendapatkan beasiswa di sekolah ini. Sekolah Internasional. Memiliki segudang prestasi akademik maupun non-akademik. Sekolah elite. Dimana hampir seluruh siswanya mengendarai mobil sendiri ke sekolah. Seharusnya Siti senang, Ia bisa bergabung dengan anak-anak pintar dan kaya. Tapi masalahnya adalah, Siti dan mereka itu ‘berbeda’.
Hari ini Siti berangkat ke sekolah. Lagi. Batinnya dalam hati. Yang membuat Ia tetap bertahan di sekolah ini hanya Ibunya. Yang selalu menyemangatinya. Menopang Siti yang lemah. Entah lemah dalam artian apa.
“Hai Siti…!” Teriak Monic ketika Siti sampai di depan pintu kelas. Monic masih senyam-senyum dengan sebuah kipas berbulu di tangan.
“Hai Monic. Ada apa?” Sungguh aneh dan tak biasa. Monic, seorang ketua Gank The Lips—Gank yang terkenal seantero sekolah karena kecantikan dan keangkuhan anggotanya—kini menyapanya dengan sangat ceria.
“Ini.” Ujar Monic sembari menyodorkan sebuah kartu mungil berwarna ungu dengan pita pink di atasnya. “Dua hari lagi aku ulangtahun. So, aku ngundang kamu ke birthday party aku. Datang, ya.” Monic benar-benar berbeda pagi ini. Matanya menyiratkan sebuah rasa ketulusan seorang teman. Mata Siti langsung melebar saat menerima undangan itu. Betul-betul undangan yang sangat spesial. Ia tak menyangka akan diundang oleh seorang dari sekolah ini, apa lagi dari Monic.
Siti meletakkan tasnya di meja. Lalu duduk dan memerhatikan undangan cantik yang masih Ia pegang. Jam 7 malam di rumah Monic, Kelapa Gading. Ia pasti datang.
Hari ini Siti sangat senang. Memang teman sekelasnya masih tetap sama, menjauhinya. Tapi Siti percaya, kalau Monic saja sudah mau berteman dengannya, kata ‘udik’ itu pasti akan hilang.  ***
“Kamu mau kemana, Siti?” Tanya Ibu saat Siti sedang memasukkan dompet ke dalam tas kecil berwarna hitam.
“Siti mau ke mall, buk. Besok teman Siti ada yang ulangtahun, Siti mau beli kado buat dia.”
“Emang kamu punya uang?”
Siti tak menjawab. Ia hanya menunjuk sebuah celengan ayam yang kini sudah terbelah. Ia mengingkari janjinya dulu. Bahwa uang celengan itu seharusnya digunakan untuk mendaftar ke Universitas yang Ia inginkan. Tapi entah mengapa, Siti merasa itu tidak perlu.
Ibu hanya tersenyum simpul. Lalu membiarkan Siti pergi dengan Trans Metro Jakarta.
Sesampainya di Mall, Siti membeli sebuah perangkat untuk merias kuku. Ia membelinya karena Monic memang gemar merias kukunya. Setelah keluar dari counter tersebut. Siti melihat isi dompetnya. Masih banyak uang di sana. Siti lalu berinisiatif membeli beberapa hadiah lagi untuk teman yang lain.
Akhirnya Siti terduduk di kursi ruang tamu. Kakinya pegal setelah beberapa jam mengitari Mall. Tangannya pun pegal membawa semua hadiah untuk temannya itu. Teman satu kelas! Dompet Siti kini hanya tersisa uang 10 ribu rupiah. Tapi Siti senang, Ia dapat membelikan hadiah untuk semua temannya. Walaupun temannya itu tak pernah menganggapnya ada.
“Rok buat Nadya yang feminine. Jaket untuk Fira yang suka manjat gunung. Kaset drama Korea untuk Karin yang Kpoppers. Coklat untuk Cika yang suka makan…” Ucap Siti sambil memilah-milah. Ibunya hanya dapat diam dan merasa iba terhadap Siti. Semoga dia diberi kekuatan Tuhan. Gumam Ibu dalam hati.
Malam itupun tiba, Siti sudah siap dengan kado dan dandanannya. Ia meluncur menuju kawasan Kelapa Gading dengan ojek. Wajahnya sungguh berbinar.
“Monic, ini kado buat kamu. Selamat ulangtahun ya, Monic.” Siti langsung menyodorkan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi kepada Monic.
Tempatnya sangat indah. Monic mengambil set di sekitar kolam renang rumahnya. Dihiasi lampu kerlap-kerlip dan alunan musik yang merdu, tempat ini sungguh seperti yang ada di film-film.
“Ooh, makasih Siti. Ini mengharukan banget.” Kata Monic masih dengan muka angkuhnya. Tak disangka-sangka. Monic langsung mengoyak bungkus kado tersebut dengan kasar. Matanya langsung terbelalak melihat isinya. Siti kaget dan bingung terhadap apa yang dilakukan Monic. Dengan semua mata telah tertuju kepadanya, Monic mengacung-acungkan kotak perangkat perawatan kuku itu. “Teman-teman! Liat deh, Siti bawa apa. Dia bawa seperangkat perawatan kuku murahan yang seumur hidup gak akan pernah kita pake.” Teriak Monic dengan senyumnya yang sangat puas. Siti tak tahu harus berbuat apa, Ia tak menyangka akan jadi begini.
Orang-orang kemudian berbisik-bisik, lalu memandang sinis kepada Siti. Ada yang tertawa puas melihatnya. Siti semakin terpojok. Belum sempat Ia mencerna semua yang terjadi malam ini, Monic sudah meneriakinya lagi. “Lo kira Gue serius ngundang lo ke sini? Lo pikir kita semua di sini selevel gitu, sama lo? Lo nyadar gak sih, kalau lo itu gak lebih dari seorang siswa miskin yang KAM-SE-U-PAY!” Maki Monic kejam. Siti tak bisa lagi membendung airmatanya yang sejak tadi sudah berkumpul di pelupuk mata. Siti berlari sambil terisak. Lalu menghilang di ujung pintu keluar diiringi riuhnya tawa kemenangan dari para undangan lain.
Siti menangis sejadi-jadinya setelah sampai di depan gerbang rumah megah Monic. Dadanya seketika sesak. Kemudian tanpa Ia inginkan, cairan merah kental keluar dari mulutnya. Siti kalut. Tak tahu arah jalan pulang. Jalanan sudah sepi. Siti hanya berjalan sambil sesekali terbatuk dan terisak. Entah kemana. Siti terus berjalan dan berjalan. sampai Ia berhenti karena merasa sakit yang sangat dahsyat pada dadanya, lalu terpuruk di trotoar.***
Dua hari setelah malam itu. Siti tak kunjung muncul di sekolah. Kemarin Bu Neng bilang, Siti dirawat di UGD karena penyakit livernya kambuh. Penyakit liver! Mereka sekelas tak pernah tahu bahwa Siti mengidap suatu penyakit, bahkan penyakit yang parah. Siti di sekolah selalu tersenyum, meski tak ada yang tersenyum padanya. Siti selalu aktif di setiap pelajaran. Selalu mengangkat tangan saat ada soal yang diberikan. Selalu maju ke depan untuk membacakan sebuah puisi. Selalu menjadi yang tercepat saat menghitung soal Matematika. Menjadi anak emas dalam pelajaran Fisika. Dan segalanya. Siti tak pernah tampak lemah, kecuali saat Ia sering permisi pada pelajaran olahraga. Ia selalu pucat kalau sudah berlari. Tapi temannya sekelas tak pernah memusingkan hal itu. Lebih tepatnya, mereka tak pernah memusingkan apapun yang berkaitan dengan Siti.
Monic merasa bersalah. Ia sadar, pasti malam itu yang membuat Siti kini terbaring di UGD. Teman-teman sekelaspun ikut menyalahkannya. Mereka akhirnya kasihan terhadap Siti dan memutuskan untuk pergi menjenguknya besok.
Setelah menyusuri beberapa lorong sambil mencari nomor kamar yang sudah diberikan resepsionis, Monic masih cemas dan pucat. Takut melihat keadaan Siti karena dirinya. Sesampainya di sebuah pintu kamar dengan nomor yang cocok, Monic semakin pucat. Seorang dokter laki-laki berumur sekitar empatpuluhan keluar dari pintu tersebut. “Siapa kalian?” katanya. Monic dan teman-temannya hanya diam. Lalu terdengar suara tangis yang begitu kuat dari dalam ruangan. Monic tak bisa menunggu lagi. Didorongnya dokter tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Kain putih panjang menyelimuti tubuh yang terbujur kaku di atas ranjang. Siti tak terselamatkan. Ia mengalami banyak pendarahan dan penyakitnya sudah terlalu akut. Ia pergi. Pergi dan tak kembali.
Suasana yang amat menyesakkan dada. Namun ada yang aneh dari kamar tersebut. Di pojok sebelah meja ada banyak bungkusan kado bermacam warna. Fira mendekati bungkusan tersebut dalam diam, lalu terisak saat membaca tulisan di salah satu kotak kado berwarna biru. ‘Untuk Fira. Fir, ini jaket untuk kamu. Dipakai ya, hawa gunung itu dingin.’


0 komentar:

Posting Komentar

 

Daily Life Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei