SITI
Dialah Siti. Siswi pindahan asal Yogyakarta. Anaknya baik, ramah, senyumnya
manis, kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus, dan tentu saja pintar. Memang
Ia sedikit medok, tapi itu tak memengaruhi kemampuannya dalam berbahasa
inggris. Ia nyaris sempurna, kalau saja Ia tidak… ‘KAMSEUPAY’! Kampung Sekali
Udik Payah. Ya, memang seperti itulah Dia. Kampungan. Udik. Alasan ini jugalah
yang membuat teman sekelasnya memilih menjauhinya.
Sebenarnya Siti senang bergaul, belajar bersama atau melakukan hal lain
yang menyenangkan bersama seorang teman. Ya, seorang teman. Di Jakarta, Ia tak
memiliki seorang teman. Padahal dulu, saat Ia masih di Yogya, jangankan seorang
teman, seluruh anak di sekolah ingin berteman dengannya. Jauh berbeda dengan
sekarang. Mereka tak mau berteman dengan Siti karena satu hal yang sulit Siti
mengerti. “Siti tuh, ‘kamseupay’. Udik. Amit-amit temenan dengan orang udik.
Entar kebawa udik lagi, hahaha.” Itu yang pernah Siti dengar saat minggu
pertama Ia masuk sekolah.
Siti bingung. Bahkan kadang ingin menyerah. Rasanya Ia sangat menyesal
mengikuti beberapa tes di Yogya sampai Ia mendapatkan beasiswa di sekolah ini.
Sekolah Internasional. Memiliki segudang prestasi akademik maupun non-akademik.
Sekolah elite. Dimana hampir seluruh
siswanya mengendarai mobil sendiri ke sekolah. Seharusnya Siti senang, Ia bisa
bergabung dengan anak-anak pintar dan kaya. Tapi masalahnya adalah, Siti dan
mereka itu ‘berbeda’.
Hari ini Siti berangkat ke sekolah. Lagi.
Batinnya dalam hati. Yang membuat Ia tetap bertahan di sekolah ini hanya
Ibunya. Yang selalu menyemangatinya. Menopang Siti yang lemah. Entah lemah
dalam artian apa.
“Hai Siti…!” Teriak Monic ketika Siti sampai di depan pintu kelas. Monic
masih senyam-senyum dengan sebuah kipas berbulu di tangan.
“Hai Monic. Ada apa?” Sungguh aneh dan tak biasa. Monic, seorang ketua Gank
The Lips—Gank yang terkenal seantero sekolah karena kecantikan dan keangkuhan
anggotanya—kini menyapanya dengan sangat ceria.
“Ini.” Ujar Monic sembari menyodorkan sebuah kartu mungil berwarna ungu
dengan pita pink di atasnya. “Dua hari lagi aku ulangtahun. So, aku ngundang
kamu ke birthday party aku. Datang, ya.” Monic benar-benar berbeda pagi ini.
Matanya menyiratkan sebuah rasa ketulusan seorang teman. Mata Siti langsung
melebar saat menerima undangan itu. Betul-betul undangan yang sangat spesial.
Ia tak menyangka akan diundang oleh seorang dari sekolah ini, apa lagi dari
Monic.
Siti meletakkan tasnya di meja. Lalu duduk dan memerhatikan undangan cantik
yang masih Ia pegang. Jam 7 malam di rumah Monic, Kelapa Gading. Ia pasti
datang.
Hari ini Siti sangat senang. Memang teman sekelasnya masih tetap sama,
menjauhinya. Tapi Siti percaya, kalau Monic saja sudah mau berteman dengannya,
kata ‘udik’ itu pasti akan hilang. ***
“Kamu mau kemana, Siti?” Tanya Ibu saat Siti sedang memasukkan dompet ke
dalam tas kecil berwarna hitam.
“Siti mau ke mall, buk. Besok teman Siti ada yang ulangtahun, Siti mau beli
kado buat dia.”
“Emang kamu punya uang?”
Siti tak menjawab. Ia hanya menunjuk sebuah celengan ayam yang kini sudah
terbelah. Ia mengingkari janjinya dulu. Bahwa uang celengan itu seharusnya
digunakan untuk mendaftar ke Universitas yang Ia inginkan. Tapi entah mengapa,
Siti merasa itu tidak perlu.
Ibu hanya tersenyum simpul. Lalu membiarkan Siti pergi dengan Trans Metro
Jakarta.
Sesampainya di Mall, Siti membeli sebuah perangkat untuk merias kuku. Ia
membelinya karena Monic memang gemar merias kukunya. Setelah keluar dari
counter tersebut. Siti melihat isi dompetnya. Masih banyak uang di sana. Siti
lalu berinisiatif membeli beberapa hadiah lagi untuk teman yang lain.
Akhirnya Siti terduduk di kursi ruang tamu. Kakinya pegal setelah beberapa
jam mengitari Mall. Tangannya pun pegal membawa semua hadiah untuk temannya
itu. Teman satu kelas! Dompet Siti kini hanya tersisa uang 10 ribu rupiah. Tapi
Siti senang, Ia dapat membelikan hadiah untuk semua temannya. Walaupun temannya
itu tak pernah menganggapnya ada.
“Rok buat Nadya yang feminine. Jaket untuk Fira yang suka manjat gunung.
Kaset drama Korea untuk Karin yang Kpoppers. Coklat untuk Cika yang suka
makan…” Ucap Siti sambil memilah-milah. Ibunya hanya dapat diam dan merasa iba
terhadap Siti. Semoga dia diberi kekuatan
Tuhan. Gumam Ibu dalam hati.
Malam itupun tiba, Siti sudah siap dengan kado dan dandanannya. Ia meluncur
menuju kawasan Kelapa Gading dengan ojek. Wajahnya sungguh berbinar.
“Monic, ini kado buat kamu. Selamat ulangtahun ya, Monic.” Siti langsung
menyodorkan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi kepada Monic.
Tempatnya sangat indah. Monic mengambil set di sekitar kolam renang
rumahnya. Dihiasi lampu kerlap-kerlip dan alunan musik yang merdu, tempat ini
sungguh seperti yang ada di film-film.
“Ooh, makasih Siti. Ini mengharukan banget.” Kata Monic masih dengan muka
angkuhnya. Tak disangka-sangka. Monic langsung mengoyak bungkus kado tersebut
dengan kasar. Matanya langsung terbelalak melihat isinya. Siti kaget dan
bingung terhadap apa yang dilakukan Monic. Dengan semua mata telah tertuju
kepadanya, Monic mengacung-acungkan kotak perangkat perawatan kuku itu.
“Teman-teman! Liat deh, Siti bawa apa. Dia bawa seperangkat perawatan kuku
murahan yang seumur hidup gak akan pernah kita pake.” Teriak Monic dengan
senyumnya yang sangat puas. Siti tak tahu harus berbuat apa, Ia tak menyangka
akan jadi begini.
Orang-orang kemudian berbisik-bisik, lalu memandang sinis kepada Siti. Ada
yang tertawa puas melihatnya. Siti semakin terpojok. Belum sempat Ia mencerna semua
yang terjadi malam ini, Monic sudah meneriakinya lagi. “Lo kira Gue serius
ngundang lo ke sini? Lo pikir kita semua di sini selevel gitu, sama lo? Lo
nyadar gak sih, kalau lo itu gak lebih dari seorang siswa miskin yang
KAM-SE-U-PAY!” Maki Monic kejam. Siti tak bisa lagi membendung airmatanya yang
sejak tadi sudah berkumpul di pelupuk mata. Siti berlari sambil terisak. Lalu
menghilang di ujung pintu keluar diiringi riuhnya tawa kemenangan dari para
undangan lain.
Siti menangis sejadi-jadinya setelah sampai di depan gerbang rumah megah
Monic. Dadanya seketika sesak. Kemudian tanpa Ia inginkan, cairan merah kental
keluar dari mulutnya. Siti kalut. Tak tahu arah jalan pulang. Jalanan sudah
sepi. Siti hanya berjalan sambil sesekali terbatuk dan terisak. Entah kemana.
Siti terus berjalan dan berjalan. sampai Ia berhenti karena merasa sakit yang
sangat dahsyat pada dadanya, lalu terpuruk di trotoar.***
Dua hari setelah malam itu. Siti tak kunjung muncul di sekolah. Kemarin Bu
Neng bilang, Siti dirawat di UGD karena penyakit livernya kambuh. Penyakit
liver! Mereka sekelas tak pernah tahu bahwa Siti mengidap suatu penyakit,
bahkan penyakit yang parah. Siti di sekolah selalu tersenyum, meski tak ada
yang tersenyum padanya. Siti selalu aktif di setiap pelajaran. Selalu
mengangkat tangan saat ada soal yang diberikan. Selalu maju ke depan untuk
membacakan sebuah puisi. Selalu menjadi yang tercepat saat menghitung soal
Matematika. Menjadi anak emas dalam pelajaran Fisika. Dan segalanya. Siti tak
pernah tampak lemah, kecuali saat Ia sering permisi pada pelajaran olahraga. Ia
selalu pucat kalau sudah berlari. Tapi temannya sekelas tak pernah memusingkan
hal itu. Lebih tepatnya, mereka tak pernah memusingkan apapun yang berkaitan dengan
Siti.
Monic merasa bersalah. Ia sadar, pasti malam itu yang membuat Siti kini
terbaring di UGD. Teman-teman sekelaspun ikut menyalahkannya. Mereka akhirnya
kasihan terhadap Siti dan memutuskan untuk pergi menjenguknya besok.
Setelah menyusuri beberapa lorong sambil mencari nomor kamar yang sudah
diberikan resepsionis, Monic masih cemas dan pucat. Takut melihat keadaan Siti
karena dirinya. Sesampainya di sebuah pintu kamar dengan nomor yang cocok,
Monic semakin pucat. Seorang dokter laki-laki berumur sekitar empatpuluhan
keluar dari pintu tersebut. “Siapa kalian?” katanya. Monic dan teman-temannya
hanya diam. Lalu terdengar suara tangis yang begitu kuat dari dalam ruangan.
Monic tak bisa menunggu lagi. Didorongnya dokter tersebut dan masuk ke dalam
ruangan. Kain putih panjang menyelimuti tubuh yang terbujur kaku di atas
ranjang. Siti tak terselamatkan. Ia mengalami banyak pendarahan dan penyakitnya
sudah terlalu akut. Ia pergi. Pergi dan tak kembali.
Suasana yang amat menyesakkan dada. Namun ada yang aneh dari
kamar tersebut. Di pojok sebelah meja ada banyak bungkusan kado bermacam warna.
Fira mendekati bungkusan tersebut dalam diam, lalu terisak saat membaca tulisan
di salah satu kotak kado berwarna biru. ‘Untuk Fira. Fir, ini jaket untuk kamu.
Dipakai ya, hawa gunung itu dingin.’
0 komentar:
Posting Komentar