Saat suatu ketika kita tak sengaja bertemu orang asing. Mungkin saat itu kita mengira bahwa orang tersebut hanyalah 1 dari sekian ribu orang yang tak sengaja kita temukan.
Mungkin kita tertarik untuk berbincang, tanpa kita sadari bahwa takdir kita sedang bersilangan.
Lalu muncullah sebuah ketertarikan. Pertemuan yang serba kebetulan tiba-tiba saja menciptakan sensasi-sensasi baru, ekspektasi-ekspektasi baru. Sedikit demi sedikit kehidupan kita menyatu, tanpa kita sadari bahwa takdir sedang berusaha menjebak kita.
Ketika masanya datang, maka terjebaklah sudah. Aku, kau, tiba-tiba saja saling bergantung satu sama lain. Tiba-tiba saja saling terikat satu sama lain.
Di suatu waktu kita seakan memiliki banyak petunjuk. Seakan memiliki teropong yang mampu melihat masa setahun ke depan, 2 tahun ke depan, puluhan tahun ke depan. Lalu terbanglah sudah. Perasaan melambung jauh terbuai janji-janji.
Mungkin terlalu bodoh. Terlalu dini untuk mempercayai bahwa visi di hati selalu sama dengan apa yang terjadi.
Nyatanya takdir mempermainkan kita.
Dijebloskannya kita jauh ke dasar surga kehidupan. Tak peduli hina, tak peduli dosa.
Bukankah cukup pelajaran yang kita emban tentang arti benar dan salah? Atau mungkin takdir merasa kita hanya butuh arti pengalaman?
Lalu ketika sudah jatuh, tertimbunlah pula. Kita sadar bahwa takdir telah menyeret kita. Kebijaksanaanmu lah yang membuat kita lepas. Mungkin kau memang mencintai, tapi cinta tak cukup kuat mengalahkan takdir.
Dan persis di persimpangan tempat takdir kita pernah bertemu dan bersilang, kau ulur talinya dan kau hentakkan.
Sekali lagi, takdir kembali, memaksa kita menjadi orang asing lagi.
Dan semuanya; pertemuan, perkenalan hingga jalinan takdir yang lalu hanya menjadi fragmen-fragmen kenangan, terbungkus sebuah kehidupan.
0 komentar:
Posting Komentar