Jumat, 02 Januari 2015

Lydia

Diposting oleh Unknown di 23.55

Pagi itu langit mendung, cuaca di penghujung tahun sering sekali seperti ini; lembab, angin kencang, tak jarang disertai hujan deras hingga berjam-jam.
Sehabis sarapan Lydia duduk di hadapan komputer portabel miliknya. Tampak konsentrasi membaca daftar harga tiket pesawat. Mungkin ini saatnya bagiku untuk memberitahukan perubahan rencana kami.
“Dek, aku sama sekali belum melakukan persiapan untuk pertemuan dengan perusahaan Singapur itu. Kalau kita berangkat pagi tanggal 28, tak akan sempat untuk mengecek kelengkapan di sana. Pertemuannya pukul 11 siang.” Kataku hati-hati.
“Jadi?” tanyanya langsung. Konsentrasinya seketika terusik. Ia menatap tajam mataku. Ia tahu betul aku sedang mengacaukan rencana yang telah ia susun jauh-jauh hari.
Seperti biasa, aku selalu kikuk jika ditatap tajam dengan matanya yang bulat besar itu. Aku menghirup kopi hitam yang sedari tadi kupegang. Menyusun kata-kata penjelasan berikutnya.
“Kupikir alangkah baiknya aku berangkat sehari sebelum pertemuan. Aku hanya takut kurang persiapan, dek. Pertemuan besar ini menentukan masa depanku.” Lydia membetulkan posisi duduknya. Aku diam sejenak lalu menekankan, “masa depan kita.”
“Maksudmu kita berangkat tanggal 27? Kamu ‘kan tahu aku ada acara keluarga yang harus kuhadiri.” Ia menghela nafas. “Yang seharusnya juga kamu hadiri.Tapi apa boleh buat, kamu tak pernah perduli pada keluargaku.”
Lydia tak menatapku lagi. Dipalingkannya wajahnya yang tirus ke arah jendela kamar kami yang besar. Menatap kosong gedung apartemen sebelah.
“Hei, kenapa topiknya sampai ke sana? Bukan begitu maksudku. Biarlah aku yang berangkat sendiri tanggal 27, aku akan menunggumu di Singapur. Kamu bisa berangkat pagi tanggal 28, seperti rencana kita sebelumnya.”
Lydia membuang nafas kencang. Menatap layar laptopnya lagi.
Ia selalu begitu. Rasa kesal mudah sekali merajainya meski karena hal-hal sepele. Tapi walaupun begitu, tak pernah sekalipun ia mengingkari keputusanku, apapun itu.
Aku meremas pundaknya dengan lembut, “aku akan menjemputmu di bandara.” Ia diam saja.
Hari keberangkatanku tiba. Pagi-pagi sekali Lydia sudah pamit pergi ke rumah orangtuanya. Ia tak mengantarku ke bandara hari ini. Tadi malam ia masih terlihat kesal saat aku mengangsurkan beberapa pakaian ke dalam koper.
Pesawatku akan lepas landas pukul sepuluh pagi. Sekarang masih jam sembilan, aku sudah duduk menumpang sebuah taksi menuju Bandara Djuanda.
Lydia tahu jadwal keberangkatanku, tapi ia tetap tak menghubungiku sampai aku sudah memasuki pesawat.
Aku mendapat posisi yang bagus, tepat di samping jendela. Posisi yang sangat disukai Lydia. Aku menatap kesibukan para pengangkut barang yang berseragam biru. Seketika muncul rasa sedih di hatiku. Selain mengurus pekerjaan, aku dan Lydia akan berlibur menghabiskan akhir tahun di Singapur. Lydia selalu menantikan liburan-liburan seperti ini. Tak seharusnya aku mengacaukan suasana hatinya.
Pengumuman bahwa pesawat akan lepas landas dilancarkan melalui pengeras suara. Seluruh penumpang memasang safety belt, seorang pramugari memeriksa sabuk pengaman kami.
Lalu seperti biasa, dua orang pramugari cantik memperagakan alat-alat yang akan digunakan dalam keadaan darurat. Aku tidak terlalu memerhatikan, pikiranku masih dipenuhi wajah kesal Lydia.
Seluruh penumpang sekali lagi diperintahkan untuk mematikan jaringan ponsel. Aku sadar belum mengaktifkan mode pesawat di ponselku. Sebelum mengaktifkannya, aku sempatkan mengetik pesan untuk Lydia, “Sampai jumpa, sayang.”
Penerbanganku berlangsung lancar. Pukul sebelas lewat tigapuluh pagi pesawat mendarat dengan sempurna. Aku langsung menuju hotel langganan. Memesan satu kamar lalu berniat untuk sedikit beristirahat.
Aku menghidupkan jaringan ponselku. Seketika beberapa pesan masuk, salah satunya dari Lydia. Ia menjawab dengan pelit sekali, hanya “ya”. Itu saja. Jelas sekali ia masih kesal.
Hari ini sibuk sekali. Aku berangkat ke kantor perwakilan di Singapur dan menemukan banyaknya kekurangan kelengkapan. Bersyukur sekali aku datang sehari sebelum pertemuan. Nyatanya banyak yang harus kukerjakan di sini.
Tak terasa aku berkutat di kantor hingga malam. Aku kembali ke hotel pukul tujuh dan langsung makan malam di restoran hotel. Kembali kulihat layar ponselku. Lydia tetap saja membisu.
Aku tak berniat menghubunginya. Apapun yang kulakukan takkan berguna. Wanitaku itu sangat keras kepala. Biarlah rasa kesalnya itu kubayar nanti saat ia tiba di sini. Aku berjanji akan mengajaknya berkeliling negara sempit ini. Membelikannya barang apa saja yang ia suka.
Usai makan malam dan mandi, aku langsung tertidur karena kelelahan. Pesawat yang membawa Lydia akan mendarat pukul enam pagi menurut jadwal. Aku harus bangun pagi-pagi sekali demi menjemputnya besok.
Sial. Aku lupa menghidupkan alarm. Aku terbangun pukul enam lewat duapuluh. Lydia mungkin masih mengurus bagasi di bandara. Aku harus bergegas kalau tak mau melihatnya tambah kesal.
Kuhidupkan ponselku, mungkin saja Lydia sudah menghubungiku. Ada satu pesan darinya, tampaknya dikirim sebelum pesawatnya lepas landas, pukul empat lewat sepuluh menit. Isinya terdengar lucu, “Sampai jumpa, sayang. Selamanya.”
Aku tertawa sinis membacanya. Apa maksud kata selamanya? Seperti remaja yang ingin memutuskan hubungan saja.
Sekarang aku jadi sedikit kesal juga. Apa Lydia masih belum mengerti keputusanku? Bisa-bisanya ia kesal sampai berkata begitu. Bayangkan kalau aku tak melakukan persiapan kemarin, pertemuan hari ini akan berlangsung kacau. Semua ini toh demi dia juga. Demi keluarga kecil kami juga.
Aku menekan tombol yang berderet di dinding dekat tempat tidur. Maksudku ingin mematikan mesin pendingin, tapi malah tertekan tombol televisi. Seketika suara dari televisi yang diatur terlalu keras memenuhi ruangan. Berita yang disampaikan dalam bahasa inggris dari saluran tv Singapur itu melemaskan lututku.
Pesawat yang ditumpangi istriku, hilang.
Aku terduduk lemah di kasur. Seluruh tubuhku sekaan tak bernyawa. Tulang-tulangku seperti tak berada di tempat yang semestinya.
Kembali berkelebat dalam ingatanku wajah Lydia. Mulai dari beberapa bulan lalu, saat ia mengusulkan rencana liburan di Singapur. Lalu saat hari aku mengacaukan rencananya. Lalu saat malam aku menyusun pakaian. Kemudian pertemuan terakhir kami di kamar apartemen. Ia memalingkan wajahnya saat aku ingin mengecup pipinya. Dan yang terakhir, pesan singkatnya tadi pagi.
Oh Tuhan..
Seketika pikiran-pikiran buruk menguasaiku. Ponselku berdering, Ibu Lydia berusaha menghubungiku. Sungguh, rasanya seperti mimpi. Tak mungkin.. Ini semua tak mungkin.
Hingga empat hari kemudian, jenazah wanitaku itu tak kunjung ditemukan. Aku membatalkan pertemuan penting di Singapur dan langsung kembali ke Surabaya. Kali ini, tak ada yang lebih penting dibandingkan Lydia.
Aku menyesal Lydia. Aku sungguh menyesal.
Aku sungguh berharap Tuhan mau berbaik hati. Memberikanku kesempatan untuk kembali, aku ingin berada di sampingnya. Mengakhiri hidup dalam pelukannya.
Aku betul-betul egois Lydia. Sungguh, ku akui itu.
Aku selalu mengedepankan segala pekerjaan. Kupikir pekerjaan inilah masa depanku. Tapi baru hari ini kusadari, masa depanku kini telah mati. Terkubur bersama bangkai pesawat Air Asia QZ 8501 entah di belahan bumi bagian mana.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Daily Life Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei